Apakah Lirik Lagu Mawang Merupakan Interpretasi Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri?

mawang — Mawang Kasih Sayang Kepada Orang Tua Lirik
sumber foto: lirik-lagu-dunia
Penulis: Yuda Prinada Penyunting: Rizka Alifa Rahmadhani

Mawang, seorang musisi asal Bandung yang belakangan ini terkenal dengan lagu berjudul Kasih Sayang Kepada Orang Tua. Lagu tersebut berhasil membuat berbagai interpretasi di kalangan masyarakat, mulai dari bahan candaan sampai ada yang menganggap lagu tersebut penuh dengan makna. Namun, lagu tersebut berisi lirik yang cukup sulit dimaknai. Bagaimana tidak? Lirik dari lagu Kasih Sayang Kepada Orang Tua bukanlah bahasa yang biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Mawang menulis lirik dengan kata-kata yang tidak berkonsep dalam kepala kita.

Hal ini sedikit menyerempet pendapat Sutardji Calzoum Bachri tentang kredo puisi. Sutardji berkata, “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kata diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam. Dalam kesehari-harian, kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk mengantarkan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukan yang merdeka sebagai pengertian."

Kredo puisi termuat dalam puisi-puisi khas Sutardji Calzoum Bachri, di antaranya “Amuk” dan “O”. Pada puisi-puisi tersebut terdapat kata-kata yang tidak memiliki makna melainkan kata tersebut berdiri sendiri dan pengertian kata adalah kata itu sendiri. Hal tersebut memiliki kemiripan dengan lirik lagu yang diciptakan oleh Mawang dalam lagu Kasih Sayang Kepada Kedua Orang Tua. Mawang berhasil menciptakan lirik dengan kata-kata yang berdiri sendiri dan maknanya adalah kata itu sendiri.

Akan tetapi, sebelum membawakan lagu tersebut, Mawang berbicara mengenai apa yang akan disampaikannya. Ia mengatakan bahwa lagu tersebut dipersembahkan untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang yang terlalu kompleks kepada orang tua. Bahkan, pada sebuah acara televisi swasta yang berjudul Ini Baru Empat Mata terdapat seorang penonton yang terlihat menangis mendengar lagu Mawang yang dianggap lelucon ini.

Ada kemungkinan bahwa orang yang menangis saat mendengar lagu tersebut memerhatikan kata-kata sebelum mawang bernyanyi, sedangkan mereka yang tertawa tidak. Hal ini berkaitan dengan salah satu unsur psikologis manusia yang terpengaruh oleh sebuah fenomena. Louisa E.Rhine, seorang pakar parapsikologi mengatakan, “Extra Sensory Perception (ESP) berawal dari alam bawah sadar di mana terdapat sebuah gudang penyimpanan ingatan, harapan, dan ketakutan dari hubungan yang dibuat antara dunia objektif dan pikiran. Seseorang tetap dalam keadaaan tidak sadar akan hubungan ini hingga atau jika suatu informasi dibawa ke alam sadarnya.” Berdasarkan teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa orang yang menangis saat mendengar lagu Mawang memiliki ingatan tentang apa yang dikatakan oleh Mawang sebelumnya dan kata tersebut berhasil menciptakan suatu konsep sedih pada lirik-lirik yang dapat dikatakan absurd tersebut. Sedangkan, mereka yang tertawa mungkin tidak menginginkan sebuah konsep tercipta dan hanya ingin menikmati kelucuan dari kata-kata yang tidak memiliki makna, namun berdiri sendiri sebagai kata.

Saat bernyanyi, Mawang mengajak para penontonnya untuk berteriak. Mereka yang berteriak memiliki interpretasinya masing-masing terhadap teriakkan tersebut, mulai dari menyuarakan perasaan sedihnya, harunya, bahagianya, dan mungkin kebingungannya.

Berdasarkan pendekatan psikologi, walaupun lirik lagu yang dituliskan oleh Mawang tidak memiliki arti, ia berhasil menciptakan sebuah konsep makna yang multi-interpretasi. Hal ini tentu bertentangan dengan kredo puisi yang dimaksudkan Sutardji jika kata yang dijadikan lirik oleh Mawang sudah memiliki arti. Dalam kasus ini, kita dapat melihat bahwa sebuah pengantar yang disampaikan Mawang berhasil menciptakan makna dan itu bukan termasuk kredo puisi yang dimaksud Sutardji. Namun, mungkin saja lirik tersebut merupakan kredo puisi jika Mawang tidak memberikan pengantar sebelum menyanyikan lagu tersebut karena penonton tidak mengetahui apa maksudnya.

Jadi, apakah lirik lagu yang dituliskan oleh Mawang dalam lagu Kasih Sayang Kepada Kedua Orang Tua merupakan interpretasi dari kredo puisi yang dimaksudkan oleh Sutardji Calzoum Bachri?

Posting Komentar

0 Komentar