Birds of Prey: Baru tetapi Memaksa

Ulasan Film Birds of Prey
sumber foto dari cinemags.co.id

Penulis: Salsabila Az-Zahra
Penyunting : Ahmad Sulton Ghozali

Warner Bros Pictures kembali menghadirkan film terbarunya di bioskop.
Film yang dipegang oleh sutradara Cathy Yan dan produser Margot Robbie ini berjudul Harley Quinn: Birds Of Prey (And The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn). Film yang baru saja rilis 5 Februari kemarin ini langsung dibanjiri komentar pro-kontra akan cerita yang disuguhkan di dalamnya. Sudah banyak media yang membuat ulasan film Birds of Prey, dan tidak sedikit juga dari media-media tersebut yang mengulas dengan nilai persentase yang kecil.


Terlihat di bagian awalnya, film ini berusaha membuat inovasi yang berbeda dari beberapa film sebelumnya. Harley Quinn mengawali film tersebut dengan menceritakan kisah hidupnya sejak kecil sampai kisah cintanya yang harus kandas dengan Mr. Joker menggunakan animasi kartun. Sadar bahwa film ini merupakan film action dengan pemeran manusia langsung, film ini terlihat ingin berinovasi. Namun, inovasi di dalamnya justru terasa kurang tepat. Sama halnya dengan percakapan dalam film yang terkesan tidak terlalu penting, malah akan membuat penonton bingung dengan topik yang diobrolkan.


Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, banyak media yang sudah mengulas film tersebut dan beberapa terlihat kecewa terhadap alur film yang diproduseri oleh sang aktris pemeran Harley Quinn itu sendiri. Berpendapat sama, bahwa alur yang digunakan pada film Birds Of Prey ini sangat berantakan. Banyak adegan yang memang sengaja berhenti untuk menceritakan flashback adegan itu, seperti saat Harley Quinn siap untuk menerobos kantor polisi yang menahan seorang anak perempuan bernama Cassandra Cain. Saat penonton sudah menikmati adegan action yang dilakukan Harley melawan polisi-polisi, adegan itu berhenti hanya untuk menceritakan kembali dari awal alasannya menerobos kantor polisi.


Namun, tidak dipungkiri bahwa ide tersebut tetap bagus sebab untuk beberapa penonton hal tersebut bernilai lebih dari sebuah film yang ingin memberikan kesan misteri dan membantu mereka agar tidak bingung atau penasaran.


Membahas tentang poster dan judul film tersebut, sebagian besar orang akan berasumsi bahwa Harley dan beberapa wanita lainnya dalam poster tersebut akan bekerja sama dalam satu grup dan menamakan diri mereka sebagai Birds Of Prey, seperti ketika Wmerilis film Suicide Squad. Namun faktanya adalah bukan. Memang pada akhirnya akan terucap sebuah grup bernama Birds Of Prey, tetapi tidak dengan Harley Quinn dalam grup tersebut. Dengan kata lain, di film ini Harley Quinn bersedia memberikan fokus penonton tidak untuk dirinya sendiri, seperti judul filmnya yang akhirnya diubah menjadi Birds of Prey.


Secara pribadi, saya berani memberikan 70/100. Film Birds Of Prey tidak hanya menyajikan keburukan setelah ditonton. Membahas tentang teknik shoot yang digunakan, Warner Bros Pictures juga  memberikan ciri khas dalam mengambil setiap adegannya, khususnya saat adegan action. Teknik slow motion juga sering digunakan saat adegan Harley dan kawan-kawan sedang berkelahi. Penempatan backsound saat adegan sengit diakui juga tepat sehingga menciptakan atmosfir berkelahi dengan lagu yang sama bersemangatnya. Terakhir, tidak dipungkiri lagi bahwa akting Harley Quinn yang “sembarangan” tidak akan lepas dari Margot Robbie.

Sekian Ulasan Film Birds of Prey dari Media GAUNG. Jika sudah menonton Birds Of Prey, bagaimana pendapat kalian?

Posting Komentar

0 Komentar