Oleh: Harrits Rizqi
![]() |
awsimages.detik.net.id |
Maria adalah perempuan Belanda yang selalu diceritakan oleh kakekku. Maria Catharina, seorang nyonya yang tinggal di sekitar Pulo Mangga, Batavia, pada abad ke-17. Suaminya bernama Jacob. Tuan Jacob—begitu kakekku memanggilnya—adalah pemilik lahan di kawasan Pulo Nangka.
Pada sore hari, Nyonya Maria dan Tuan Jacob kerap menghabiskan waktu di serambi rumah. Jika ada hari luang, mereka biasa menyewa perahu seorang Cina seharga lima sen, lengkap dengan juru dayung, juru mudi, dan juru pandu untuk menyusuri Sungai Ciliwung. Tepat di suatu pinggiran yang amat teduh karena banyak pohon, Nyonya Maria dan Tuan Jacob akan minta berhenti sebentar untuk beristirahat. Mereka kembali ke rumah pada pukul lima atau enam sore.
Sayang sekali, suatu siang pada bulan Mei, Tuan Jacob tiba-tiba terkapar di jalan, sepulang dari kantor Dewan Gereja. Ia mati oleh sebab yang tak pasti. Kakekku juga tak tahu.
Kematian itu memukul keras batin Nyonya Maria. Perasaan kehilangan yang amat dalam menyusup ke jiwanya. Dan jika malam, ketika ia terpaku menatap langit-langit kamarnya, sehelai daun jatuh yang mencium tanah pun akan terdengar suaranya. Setiap hari, setiap detik, sunyi menyayat tempat perenungan dan penghayatannya.
Sejak itu, Nyonya Maria selalu murung dan menghabiskan beberapa malam di restoran de Coffyhuys van Amsterdam. Ia memesan kopi jawa yang disukai suaminya. Kopi, kata Tuan Jacob ketika masih hidup, adalah kepahitan yang harus dinikmati. Jika tak bisa menyukainya, belajarlah menikmatinya, katanya kepada Nyonya Maria pada malam ulang tahun pernikahan mereka, setahun sebelum kematian Tuan Jacob tiba.
Pada malam itu juga, Tuan Jacob mengingat-ingat pengalamannya berperang melawan gerombolan penduduk kampung di selatan Sumatera. Peperangan itu menghasilkan kemenangan di pihaknya. Akan tetapi, ia tak merasa bahagia. Seorang perempuan beserta anaknya terpaksa dibunuh Tuan Jacob. Terpaksa, karena sebenarnya ia ingin membiarkan mereka lari. Dalam hidupnya, ia berprinsip hanya akan membunuh para lelaki, bukan perempuan atau anak-anak. Ia selalu teringat ibunya yang kerap menahan pukulan, melindunginya dari kesadisan sang ayah. Tapi, ia terpaksa membunuh mereka pada akhirnya, karena seorang temannya tiba-tiba datang dan memaksanya untuk segera mengeksekusi.
“Bagaimana setelah itu?” tanya Nyonya Maria.
“Aku menangis, tetapi kutahan jangan sampai terlihat yang lain.”
“Tapi, kalian menang, bukan?”
“Ya, memang.”
“Jadi?” tanya Nyonya Maria sekali lagi.
“Jadi, air mataku turun setelahnya. Kemenangan perang tak dapat menghapusnya. Kemenangan perang hanya menghapus diriku.”
Nyonya Maria mengingat percakapan itu begitu baik. Masih juga terbayang wajah tertunduk suaminya itu, seakan-akan tak dapat lagi menahan tekanan dari ingatannya. Kini sang suami telah pergi. Nyonya Marialah yang kini berperang melawan batinnya sendiri. Jelas, ia tak menyukainya, tetapi ia belajar menikmatinya.
Kesepian tak juga surut. Begitu juga dengan rumahnya, hanya jadi tempat keluh belaka. Kasur dan lantai menampung air mata. Tak ada sesiapa, kecuali dirinya: Nyonya Maria yang jadi janda. Ia benar-benar tak tahan dengan keadaan itu. Meski sudah dicobanya beribu kali untuk menyangkal kekosongan, ia kalah jua akhirnya.
Maka, ia mulai mempertimbangkan untuk mempekerjakan seorang jongos. Jongos, baginya satu saja cukup untuk mengurus rumah. Lantas, bagaimana ia akan memberi makan jongos itu? Ia tak khawatir sebab lahan milik suaminya ada yang menyewa. Dari lahan itulah Nyonya Maria mendapatkan uang dan, kalau si penyewa berbaik hati, ia akan mendapat beberapa hasil panen juga.
Si penyewa bernama Tuan Pieter. Tuan Pieter adalah seorang guru agama Kristen. Ia memiliki lima orang pekerja di lahan yang ia sewa. Para pekerja itu ditugaskan untuk mengelola lahan dan melengkapinya dengan saluran air. Tuan Pieter meminta mereka menanam bermacam-macam buah.
Kebetulan, Tuan Pieter adalah teman Tuan Jacob. Nyonya Maria pernah bertemu dengannya beberapa kali ketika Tuan Jacob dan Tuan Pieter mengadakan pertemuan. Kadang kala, sesekali, ketika Tuan Jacob sedang membuatnya marah, pikiran Nyonya Maria lari kepada Tuan Pieter. Setan-setan kecil dalam hati Nyonya Maria membisikkan suara-suara asmara. Betapa tidak; Tuan Pieter adalah pribadi yang taat dalam agamanya, cukup rupawan, dan kehidupannya berada. Apa yang tidak dapat membuat seorang perempuan untuk tidak menaruh hati kepada lelaki demikian? Nyonya Maria pun pernah membayangkan, seandainya saja suatu hari nanti Tuan Jacob meninggal, mungkin ia akan mendekatkan diri kepada Tuan Pieter. Toh, Tuan Pieter belum beristri dan Nyonya Maria merasa dirinya masih berseri. Bayangan seperti itu mampu melepaskannya dari rasa marah atas Tuan Jacob. Namun kini, ketika Tuan Jacob sudah benar-benar pergi, Nyonya Maria tak pernah sedikit pun mencoba mendekati Tuan Pieter. Baginya, Tuan Jacob tak akan pernah terganti. Begitulah seorang yang ditinggal mati, memandang hari-hari yang ditinggalkan si mayat sebagai kenangan yang menjelma monumen dalam jiwanya. Bahkan, kesalahan-kesalahannya pun dimaklumkan.
Nyonya Maria hanya perlu seorang jongos. Ia meminta jongos kepada Tuan Pieter, sekiranya ada. Lalu seminggu setelah permintannya itu, seorang lelaki kampung yang cukup baik penampilannya datang ke rumah Nyonya Maria. Ia memperkenalkan diri sebagai orang yang dikirim Tuan Pieter sebagai jongos untuk Nyonya Maria. Jongos itu bernama Man, sesuai panggilan yang biasa disebut oleh Tuan Pieter kepadanya.
Nyonya Maria pada awalnya merasa agak kecewa sebab yang diharapkannya adalah seorang perempuan. Tapi, ia pikir-pikir sebentar. Jongos lelaki pun boleh juga untuk pekerjaan yang lebih berat. Ia akhirnya diterima Nyonya Maria, dipersilakan masuk, melihat-lihat isi rumah, dan diberi tugas oleh sang pemilik.
Biarpun seorang lelaki, Man mampu mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Pun, siapa sangka, ia bisa memasak. Nyonya Maria mulai menghilangkan rasa risih yang ada dalam dirinya. Bagaimana tidak risih; tinggal berdua dengan seorang lelaki yang baru dikenalnya dan bukan dari sebangsanya membuat Nyonya Maria merasa sedikit takut kalau-kalau Man adalah orang jahat. Akan tetapi, Man membuktikan bahwa ia tak lebih dari seorang jongos yang patuh terhadap perintah majikannya.
Tak hanya Nyonya Maria yang khawatir; Man pun demikian. Ia takut kalau-kalau majikannya adalah orang jahat. Sebabnya, ia kerap mendengar cerita sesama jongos tentang perlakuan majikan masing-masing. Penyiksaan—sering kali berupa pemukulan—hampir tidak pernah tidak dilakukan sang majikan, bahkan untuk urusan ikan goreng yang dicuri oleh seekor kucing. Man merasa beruntung tinggal bersama Tuan Pieter yang baik. Ketika Tuan Pieter memintanya menjadi jongos Nyonya Maria, risau benar hati Man. Ia sudah membayangkan aneka jenis penyiksaan yang akan diterimanya.
Namun, prasangka atas Nyonya Maria perlahan-lahan lenyap. Ketika dirasanya bahwa Nyonya Maria sudah menampakkan rasa percaya, Man membalasnya dengan kesetiaan yang lebih. Nyonya Maria pun terlihat semakin baik kepadanya. Man mulai diajak untuk pergi ke gereja pada akhir pekan. Seperti kebiasaan yang berlaku, Nyonya Maria duduk di dalam gereja, sementara Man duduk di luar bersama para jongos. Tak hanya itu, Nyonya Maria juga mulai mau bercerita tentang dirinya, Tuan Jacob, kisah perpindahan mereka dari Belanda ke Batavia, dan apa saja yang dapat diceritakan.
Man pun begitu; ia mulai terbuka akan dirinya. Nyonya Maria biasanya bertanya tentang kebiasaan-kebiasaan orang kampung. Ia juga coba memastikan apakah benar bahwa orang kampung itu tak bermoral, suka berperang, dan hal buruk lain. Dan keduanya mulai menyadari, bahwa kebaikan dan keburukan seseorang tidak dapat dijadikan alasan untuk menilai kebaikan dan keburukan bangsanya. Juga kejahatan, tak perlu seorang jongos untuk dicontohkan; raja yang dianggap suci pun dapat melakukannya. Sementara, yang sering kali membuat dunia jadi tak tenang adalah prasangka-prasangka yang dibuat manusia sendiri. Prasangka-prasangka terhadap orang lain itu secara tak langsung menjadikan seseorang merasa bahwa tak ada yang benar selain dirinya, bahkan bisa juga kebenaran itu adalah dirinya sendiri.
Nyonya Maria mulai menemukan gairah hidupnya lagi, meskipun duka masih tersisa dalam dirinya. Man bukan sekadar jongos. Ia adalah seorang yang dihadirkan Tuhan untuk menjadi pemberi rasa atas kehidupannya yang hambar setelah kepergian Tuan Jacob.
Pemberi rasa. Tak berlebihan jika dikatakan demikian. Kalau saja Man sebangsa dan lebih tua darinya, Nyonya Maria tak segan untuk memulai hidup baru dengannya. Lagi pula, ia juga mulai bisa lepas dari bayang-bayang Tuan Jacob, walaupun tak akan sepenuhnya. Namun, apalah nanti kata orang. Tinggal berdua dengan Man sebagai jongos pun kerap mendapat cibiran. Juga orang-orang nanti akan mengecap Nyonya Maria sebagai perempuan rendahan jika ia menikah dengan Man.
Pada akhirnya, Nyonya Maria harus berhadapan dengan maut sekira tiga puluh tahun kemudian. Nyonya Maria meninggal pada 14 April 1698. Ia dibunuh oleh Nyonya Coeymans, tetangga depan rumah.
Ketika itu, Nyonya Coeymans menyindir Nyonya Maria yang sudah lama tinggal dengan jongosnya. Kehidupan menjanda Nyonya Maria dinilainya sebagai sesuatu yang aneh. Sebabnya, bagaimana mungkin seseorang dapat hidup lama tanpa pasangan. Ia pikir, pasti Nyonya Maria dan jongosnya punya hubungan khusus sehingga Nyonya Maria tidak menikah lagi. Memangnya, apa yang dilakukan seorang perempuan dengan seorang lelaki yang tinggal bersama selama bertahun-tahun kalau bukan hubungan selayaknya suami dan istri?
Puncaknya adalah sindiran bahwa selera Nyonya Maria ternyata hanya sebatas jongos dari kampung. Nyonya Maria tak dapat menahan amarahnya. Mereka bertengkar selama beberapa menit. Kemudian, Nyonya Coeymans masuk ke rumahnya. Ketika keluar, ia sudah membawa pisau dapur dan berlari ke arah Nyonya Maria yang masih berada di serambi rumahnya. Di situlah Nyonya Maria menemui ajalnya, ketika pisau Nyonya Coeymans menancap di leher Nyonya Maria.
Begitulah kisah Nyonya Maria atau Maria Catharina yang selalu diceritakan oleh kakekku. Benar: selalu; tiap kali aku menemui kakekku di rumahnya, ia akan bercerita tentang Nyonya Maria. Aku tak tahu mengapa kakekku sangat suka menceritakan kisah itu. Apakah ia pernah bertemu dengan Maria Catharina? Rasanya tak mungkin sebab itu terjadi pada abad ke-17. Aku pun tak tahu apakah Maria Catharina sungguh ada. Yang jelas, kakekku pernah bilang bahwa ia masih menyimpan foto Maria Catharina. Ia hanya bilang, tapi tak pernah menunjukkannya. Karena itulah, aku cenderung percaya bahwa itu hanyalah kisah rekaan kakek. Aku tak percaya bahwa Maria Catharina benar-benar ada.
Akan tetapi, ia sering mengatakan bahwa rumah di ujung gang adalah bekas rumah Maria Catharina. Jadi kupikir, barangkali Maria Catharina memang benar ada, tetapi hanya dalam khayalan kakek semata. Barangkali, yang ada tak harus selalu terlihat. Dan, soal percaya atau tidak, bukankah itu tentang pilihan?
0 Komentar