Hidup dan Mati Sekaligus: Konsep dan Stigma Bunuh Diri dalam Gairah untuk Hidup dan untuk Mati Karya Nasjah Djamin

sumber gambar dari Pinterest
Penulis: Tanisha Fortuna
Penyunting: Siti Sahana Aqesya

Bunuh diri adalah fenomena yang kompleks. Selain soal psikologi, bunuh diri juga dipengaruhi oleh faktor biologis, sosiologis, budaya, lingkungan, dan geografis (Shrivastava, 2012, hlm. ix). Di Jepang, misalnya, para prajurit Perang Dunia II melakukan kamikaze atau menabrakkan diri dengan pesawat ke kapal sekutu. Di Indonesia sendiri, para penduduk Bali pada masa penjajahan Belanda melakukan bunuh diri di hadapan serdadu Belanda ketika Perang Puputan terjadi.

Novel Gairah untuk Hidup dan Untuk Mati karya Nasjah Djamin menggambarkan bagaimana bunuh diri dipandang oleh masyarakat Jepang dan Melayu secara umum. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati mengisahkan seorang warga Jepang bernama Fuyuko yang berkutat dengan persoalan bunuh diri sepanjang hidupnya. Ia lolos dari upaya bunuh diri oleh ibunya, sementara ayahnya melakukan harakiri ketika kalah Perang Dunia II. Kepergian orang tuanya menyebabkan Fuyuko harus bekerja sebagai pelayan kedai kopi agar dapat menyambung hidupnya dan membiayai sekolah adiknya, Shimada.

Ketika sedang bekerja, Fuyuko bertemu dengan seorang pria bernama Husen. Fuyuko melihat sosok ayahnya dalam diri Husen dan mereka berdua pun langsung saling mencintai. Sejak hidup bersama dengan Husen, kondisi finansial Fuyuko menjadi jauh lebih baik.

Husen awalnya mengaku kepada Fuyuko bahwa ia adalah seorang lajang yang sedang belajar di Jepang. Padahal, ia sebenarnya pejabat perwakilan dagang yang sudah beristri dan memiliki dua anak di Singapura. Fuyuko mengetahui kebohongan Husen ketika tidak sengaja membaca surat istri Husen yang terselip di saku jas Husen. Sejak mengetahui kebohongan Husen, Fuyuko mengalami konflik batin; terus hidup sebagai selir Husen atau mengakhiri hidup seperti kedua orang tuanya. Sepanjang gejolak itu berlangsung, Fuyuko berkenalan dengan Fukuda, direktur sebuah perusahaan, dan Yun, seorang pemuda miskin berumur dua puluh tahun. Hubungan Fuyuko dengan Fukuda dan Yun menjadi pelampiasan Fuyuko atas kekecewaannya terhadap Husen.

Sebagian besar cerita Fuyuko dalam novel ini disajikan melalui surat-surat yang ditulis Fuyuko kepada adiknya, Shimada. Shimada membacakan surat-surat itu kepada Talib, orang Indonesia yang sedang mendalami soal bisnis di Jepang. Penyampaian cerita ini mirip dengan Atheis karena kehadiran tokoh Talib yang banyak muncul di awal dan akhir cerita berperan sebagai “pembingkai” keseluruhan cerita (Mahayana et al., 1992, hlm. 134).

Novel ini diawali oleh Talib yang menceritakan fenomena bunuh diri di Jepang yang biasa terjadi di negeri sakura itu:

Berita-berita bunuh diri yang termuat di surat-surat kabar di Jepang, sudah merupakan berita biasa. Satu kejadian sehari-hari, yang dibaca pagi hari sambil menghirup susu panas dan mengunyah makan pagi.
(Djamin, 1976, hlm. 5)

Bunuh diri bagi orang Jepang bukan merupakan suatu perbuatan dosa, melainkan lebih dianggap sebagai usaha mempertahankan kehormatan: lebih baik mati daripada tetap hidup dalam kehancuran. “Bunuh diri memang sudah jadi darah daging orang Jepang” (Djamin, hlm. 10). Hal ini ditunjukkan melalui ayah Fuyuko yang melakukan harakiri untuk mempertahankan kehormatannya sebagai prajurit Jepang dan ibu Fuyuko yang juga bunuh diri untuk mempertahankan harga dirinya sebagai wanita. Fuyuko pun memiliki pemikiran yang sama mengenai konsep bunuh diri.

… aku menyadari betul-betul kenapa bapak, sebagai seorang serdadu, melakukan harakiri ketika mendengar Jepang menyerah. Ia telah kehilangan segalanya, kehormatannya dan harga dirinya. Ia mati dengan hormat untuk harga dirinya. Juga mengertilah aku sekarang, kenapa ibu membunuh diri. Ibu mengakhiri hidupnya, karena harga diri yang ingin dipertanggungjawabkannya. Ibu juga kehilangan harga diri, dan harga diri serta kehormatan itu pulalah yang menuntutnya agar bunuh diri.
(Djamin, 1976, hlm. 15)

Dalam budaya Jepang, ada istilah giri, yaitu kewajiban yang mengikat terhadap anggota keluarga, orang sekitar, kasta, atau masyarakat luas. Jika seseorang gagal memenuhi giri-nya, ia merasa telah kehilangan kehormatan dan harga dirinya sehingga ia menebusnya dengan cara bunuh diri. Di Indonesia, giri semacam itulah yang dilakukan oleh warga Bali ketika melawan Belanda dalam Perang Puputan.

Sementara itu, bunuh diri bagi orang Melayu (tokoh Husen) adalah suatu perbuatan yang tidak berhak dilakukan oleh manusia. Bagi Husen, manusia sudah telanjur dilahirkan di dunia sehingga mau tidak mau manusia harus menjalani hidupnya sampai maut yang telah ditentukan. Lebih-lebih lagi, seseorang yang melakukan bunuh diri adalah orang yang egois. Perbedaan pemikiran mengenai konsep bunuh diri inilah yang menjadi salah satu faktor Husen dan Fuyuko sering kali bertengkar.

Novel Gairah untuk Hidup dan Untuk Mati juga menggambarkan betapa stigma bunuh diri masih melekat erat di masyarakat, baik pada masyarakat Indonesia, maupun pada masyarakat Singapura, dan masyarakat Jepang itu sendiri. Stigma-stigma tersebut antara lain: (1) bunuh diri merupakan tindakan yang egoistis; (2) orang yang melakukan bunuh diri adalah orang yang lemah dan sentimental; dan (3) orang yang melakukan bunuh diri biasanya disebabkan oleh persoalan sepele.

Pertama, bunuh diri merupakan tindakan egoistis. Pendapat tersebut dilontarkan oleh Husen ketika Fuyuko mengajaknya untuk bunuh diri bersama.

… Sudah kukatakan, bunuh diri bukan hak manusia melakukannya. Bunuh diri adalah satu sikap egoistis dan tak berani bertanggungjawab!
(Djamin, 1976, hlm. 149)

Dalam surat kepada adiknya, Shimada, Fuyuko merasa bahwa lebih baik mengakhiri hidupnya dan tidak merepotkan siapa pun di sekitarnya. Fuyuko menganggap bahwa hidupnya telah dipaksakan baginya sehingga ia merasa tidak sanggup lagi menjalaninya. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang ingin atau yang telah melakukan bunuh diri sebenarnya telah mengalami rasa sakit yang sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Kedua, orang yang melakukan bunuh diri adalah orang yang lemah dan sentimental. Stigma ini tercermin pada pendapat Masako dan Talib. Masako berpendapat bahwa orang Jepang selalu hidup dalam ketakutan tidak bisa memenuhi ekspektasi orang sekitarnya. Sikap demikian menyebabkan orang Jepang memiliki jiwa yang lemah dan tak jarang mengakhiri hidupnya.

… Begitulah Jepang sejak dulu kala, seluruh Tanahnya dan Manusianya … Setiap orang menyia-nyiakan hidupnya dan menghukum dirinya pada sesuatu, merasa bersalah dan celaka dan ingin mati, padahal ini adalah satu sikap yang tidak memiliki kesanggupan untuk hidup. Itu semua adalah sikap lemah, dan orang yang lemah tidak bisa merdeka jiwanya!
(Djamin, 1976, hlm. 208)

Talib juga berpendapat bahwa salah satu penyebab banyak orang Jepang yang melakukan bunuh diri adalah sikap mereka yang terlalu perasa atau sentimentil. Masako sebagai warga Jepang pun setuju dengan pendapat tersebut. Pendapat Masako dan Talib mengenai fenomena bunuh diri di Jepang sebetulnya merupakan stigma yang juga terdapat pada masyarakat di seluruh dunia.

Ketiga, orang yang melakukan bunuh diri biasanya disebabkan oleh persoalan yang sepele, seperti soal ekonomi dan soal cinta. Pendapat Masako yang demikian membuat ia juga berpikir bahwa tidak seharusnya Fuyuko bertekad untuk bunuh diri.

Tapi di Jepanglah statistik yang menunjukkan garis meningkat dalam bunuh diri, kemudian India. dan sebab-sebabnya bermacam-macam, soal ekonomi, soal cinta, dan soal sepele. Mahasiswa bunuh diri karena malu tak lulus untuk memasuki universitas, atau soal cinta yang malang, atau soal kemiskinan … Lihatlah soal nyonya. Tidak masuk akal sebetulnya ia berbuat demikian …
(Djamin, 1976, hlm. 203)

Menurut WHO (2014), tidak ada penyebab tunggal seseorang melakukan bunuh diri. Perilaku bunuh diri dipengaruhi oleh kumpulan beragam faktor risiko, mulai dari faktor sosial, psikologis, budaya, serta faktor lainnya. Fuyuko dan Yun yang merupakan korban Perang Dunia II sama-sama sempat “tumbuh” di antara puing-puing bangunan.  Bedanya, hidup Fuyuko “lebih makmur” setelah bertemu dengan Husen ketika dewasa, sedangkan Yun tetap hidup miskin. Berikut adalah rintihan Yun mengenai kehampaan hidupnya.

Lihatlah! Aku tiba-tiba ada di dunia ini, tanpa pengetahuan apa-apa. Bom berjatuhan membakar dan menghancurkan Tokyo. Dengan tangis itu pula aku ditemui orang lain, di sisi keping-keping mayat ibu bapaku … Aku tidak minta dilahirkan, tapi aku sudah hadir dalam hidup yang compang-camping ini …
(Djamin, 1976, hlm. 100)

Yun sadar bahwa hidup sudah tidak ada artinya lagi. Bisa saja ia berusaha untuk mendapatkan pendidikan dan karir yang tinggi, tetapi menurutnya itu hanya membawanya pada kebosanan dan kehampaan hidup. Siklus hidup yang terus-menerus berjalan dengan monoton pada akhirnya akan menyebabkan manusia “hidup tanpa makna hidup”.

Sementara itu, perkenalan Fuyuko dengan Fukuda menyadarkan Fuyuko bahwa negara Jepang yang sudah kembali pulih pascaperang justru membawanya ke dalam kekosongan hidup lantaran sudah tidak ada lagi tujuan hidup yang harus dicapai. Industrialisasi yang berlangsung di Jepang menyebabkan warganya seperti robot sekaligus budak yang terus-menerus dipekerjakan.

Sudahlah Yuko-ciang; aku sedih kalau memikirkan hidup ini. Hidup sebagai manusia yang dihidupi oleh industri besar dan perdagangan. Akibatnya adalah, kita lepas dari alam, dan kita merupakan sebahagian dari alat yang membuat roda industri dan perdagangan itu berputar! Tahu kau, Yuko-ciang? Dalam detik-detik kebosanan seperti itu, kadang-kadang bangkit semangatku untuk pergi jauh mengembara ke benua atau ke pulau-pulau yang belum disentuh peradaban dan kehidupan modern. Tapi jiwa avontirku yang romantis ini lenyap saja, karena terikat pada pekerjaan dan tanggung jawab …
(Djamin, 1976, hlm. 169)

Setelah berhubungan dengan Yun dan Fukuda, Fuyuko semakin sadar bahwa dirinya mengalami kekosongan dan absurditas dalam hidupnya; ia semakin letih untuk mencari alasan hidup. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan filsuf eksistensialis Albert Camus bahwa realitas hidup sebenarnya adalah sesuatu yang irasional dan paradoksal (Cooper, 1999, hlm. 141). Irasionalitas dan paradoks ini sesuai dengan siklus hidup yang dikatakan oleh tokoh Yun.

Dengan demikian, alasan yang membulatkan tekad Fuyuko untuk bunuh diri bukan hanya disebabkan oleh soal percintaannya dengan Husen belaka, melainkan juga oleh faktor budaya, lingkungan, dan sejarah. Masalahnya dengan Husen hanyalah peristiwa pemicu dari perilaku bunuh diri Fuyuko. Fuyuko yang mengalami naik-turun “gairah untuk hidup dan untuk mati” menunjukkan bagaimana kompleksnya pemikiran dan batin seseorang yang ingin bunuh diri. Penyebab seseorang bunuh diri bukan merupakan penyebab tunggal, tetapi dipengaruhi oleh persoalan-persoalan lain yang sangat kompleks; antara faktor satu dengan faktor lainnya saling berkaitan satu sama lain.

Persoalan bunuh diri adalah permasalahan kompleks yang justru sering kali dianggap remeh oleh masyarakat. Melalui tokoh Masako dan Talib, Nasjah Djamin menunjukkan bahwa niat menolong seseorang yang ingin bunuh diri terkadang justru berakhir pada penghakiman melalui stigma-stigma yang ada. Di sisi lain, tokoh Fuyuko, orang tua Fuyuko, serta Yun menunjukkan bahwa orang yang bunuh diri sebenarnya mengalami konflik batin dan konflik pikiran yang sangat kompleks, yang dipengaruhi juga oleh aspek budaya, lingkungan, dan sosial yang berlaku.

Bunuh diri bukan hanya sekadar disebabkan oleh persoalan cinta atau persoalan ekonomi belaka. Lewat novel Gairah untuk Hidup dan untuk Mati, Nasjah berhasil menggambarkan fenomena bunuh diri—khususnya di Jepang—berdasarkan perspektif orang yang melakukan bunuh diri dan juga perspektif orang sekitarnya; serta bagaimana fenomena bunuh diri masih dianggap enteng oleh masyarakat. Akan tetapi, butuh kondisi kesehatan mental yang baik ketika membaca karena novel ini menceritakan metode bunuh diri dengan eksplisit dan stigma-stigma yang terkait. Jika pembaca sedang dalam kondisi mental yang rentan, ditakutkan akan terjadi bunuh diri tiruan (copycat suicide).


Referensi
Cooper, David E. (1999). Existentialism : a reconstruction. (Cet. ke-2). Oxford: Blackwell Publishers Ltd.
Djamin, Nasjah. (1976). Gairah untuk hidup dan untuk mati. (Cet. ke-2). Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Mahayana, Maman S., Oyon Sofyan, Achmad Dian. (1992). Ringkasan dan ulasan novel Indonesia modern. Jakarta: Grasindo.
Shrivastava, Amresh, Megan Kimbrell, & David Lester. (Eds.). (2017). Suicide from a global perspective : vulnerable populations and controversies. (Cet. ke-2). New York: Nova Science Publishers, Inc.

Posting Komentar

0 Komentar