sumber foto dari trailers.apple.com |
Penulis: Andinti Putri
Penyunting: Ahmad Sulton Ghozali
Para penggemar film bergenre horror dan science fiction baru-baru ini disuguhi film-film yang cukup menegangkan dan memuaskan. Salah satunya berjudul Invisible Man, sebuah film yang ditulis dan disutradarai oleh Leigh Whannell ini tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 26 Februari 2020. Trailernya tersebar di banyak media, termasuk Instagram, membuat banyak orang yang menontonnya menjadi penasaran.
Melihat trailernya, banyak orang yang mengatakan bahwa film The Invisible Man akan sama atau melanjutkan film tahun 2000, yaitu Hollow Man. Memang antara film Invisible Man dengan Hollow Man sama-sama membawa konteks “manusia tidak terlihat”. Namun, jika kita telah menonton keduanya, akan terasa begitu banyak perbedaan.
Film ini menceritakan seorang wanita bernama Cecilia yang diperankan oleh Elisabeth Moss, berusaha terbebas dari lelaki posesif bernama Adrian yang diperankan oleh Oliver Jackson. Meskipun sudah berhasil kabur dari rumah Adrian, Cecilia tetap merasa tidak aman dan selalu diintai oleh Adrian. Hal ini terjadi bukan karena alasan. Adrian juga seorang ahli optik terkenal. Dengan kekayaan yang berlimpah, bukan mustahil jika Adrian bisa menemukan Cecilia yang berada di rumah teman masa kecilnya.
Kemudian, muncul berita besar yang mengatakan bahwa Adrian meninggal karena bunuh diri. Saat itulah Cecilia merasa terbebas. Meskipun begitu, Cecilia mulai mengalami kejadian aneh sejak Adrian meninggal. Pada akhirnya, Cecilia menyimpulkan bahwa ia masih diikuti oleh Adrian. Banyak yang tidak percaya dengan Cecilia, namun tidak dengan Cecilia yang percaya bahwa Adrian belum meninggal. Kejadian demi kejadian dan rahasia demi rahasia mulai terungkap seiring berjalannya film. Akhir alur yang jauh dari perkiraan membuat para penonton berdecak kagum.
Terdapat beberapa aspek yang membuat The Invisible Man sukses. Salah satunya adalah film ini dapat membawa penonton seakan-akan berada di film. Hal ini dapat dirasakan dari pengambilan sudut gambar yang berbeda-beda. Terkadang dalam sudut pandang Cecilia, terkadang dalam sudut pandang Adrian, dan terkadang dalam sudut pandang orang ketiga. Sepanjang adegan film, para penonton diajak memperhatikan detail-detail kecil dalam film, seperti adegan pisau yang jatuh sendiri tanpa menghasilkan suara, api yang membesar secara tiba-tiba, bangku kosong yang terlihat sedang diduduki, cahaya flash, selimut yang terjatuh dan tidak bisa ditarik seakan-akan terinjak. serta hal janggal lainnya yang seharusnya secara logika tidak dapat terjadi. Selain itu, latar musik yang disuguhkan juga berhasil membawa penonton merasakan hawa tegang.
Secara keseluruhan, The Invisible Man sangat dianjurkan untuk ditonton untuk penggemar film horor. Meskipun saya yakin mungkin ada beberapa orang yang kurang puas, film ini secara garis besar memiliki alur yang tidak tertebak dan ketegangan yang memuaskan.
0 Komentar