Leksikografi Isyana Sarasvati

sumber foto: spotify.com
Penulis: Tanisha Fortuna
Penyunting: Ahmad Sulton Ghozali
Beberapa orang pasti tahu kalau saya itu party raver alias pecinta EDM alias musik dugem. Ada juga yang tahu kalau saya tidak suka dengan lagu Indonesia yang rata-rata — menurut saya — bucin.
Hingga suatu hari, siaran radio yang sedang membawakan lagu dari Isyana Sarasvati berhasil menyentuh telinga saya. Tempo musik yang awalnya lambat menjadi agak cepat lalu menjadi lambat lagi adalah alasan saya menyukai lagu yang unik itu.
Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari lagu yang berjudul “Untuk Hati yang Terluka” itu di aplikasi music streaming. Tepat pada hari itu juga, ternyata Isyana baru saja mengeluarkan album barunya bertajuk LEXICON. Seketika saya teringat akan salah satu mata kuliah linguistik yang tidak jarang membuat kepala saya pening.
Menurut KBBI, leksikon adalah ‘kosakata’ atau ‘kamus yang sederhana’. Jadi, mendengarkan album LEXICON ini seperti membuka kamus kehidupan milik Isyana Sarasvati.
Setelah mendengar album ini, entah mengapa saya bisa merasakan jati diri Isyana yang sebenarnya. Kombinasi musik klasik, musik rock, dan tambahan synthesizer di beberapa lagunya seolah-olah menunjukkan perjalanan diskografi Isyana yang kadang mendayu-dayu seperti piano dan kadang menggebu-gebu seperti drum. Lagu “Sikap Duniawi” dan “LEXICON” misalnya, memiliki komposisi yang unik karena terdapat dinamika musik orkestra dan musik rock yang sejauh ini belum pernah saya dengar di lagu-lagu Indonesia.
Sebagai mahasiswa sastra Indonesia, saya akui bahwa lirik lagu-lagu Isyana sangat puitis dan memiliki keindahannya tersendiri — tidak melulu soal “aku cinta kamu”. Memang, ada beberapa lagu yang menceritakan perasaan seseorang terhadap orang lain, tetapi tidak harus berarti soal percintaan. Bisa jadi, orang lain itu tak lain adalah diri sendiri. Akhirnya, liriknya yang puitis dapat mengundang berbagai interpretasi sehingga membuat album baru Isyana ini menjadi berwarna.
Keluarnya jati diri Isyana di LEXICON membuat saya optimis akan musik Indonesia di masa depan. Semoga akan ada musisi lain yang mau menunjukkan jati dirinya dan keluar dari “zona selera pasar”, mengingat bahwa musik adalah identitas pembuatnya.

Posting Komentar

0 Komentar