![]() |
sumber foto: asset-a.grid.id , junirecords.com, supermusic.id |
Penulis: Zahra Nur Anzani
Penyunting: Yuda Prinada
Di tahun 2020, penyanyi-penyanyi solo seperti Kunto Aji, Hindia, dan Pamungkas semakin dikenal masyarakat. Baru-baru ini, Hindia menyelesaikan #TurJawaHindia pada 16 Februari 2020. Begitu pun dengan konser solois lainnya yang selalu ramai ditonton oleh banyak orang, terutama milenial. Kunto Aji, Hindia, dan Pamungkas membawakan lagu dengan jenis moodboard yang serupa, yaitu kesehatan mental. Melalui lagu, mereka mampu menyuarakan masalah pendengar yang banyak dialami orang-orang saat ini.
Melalui album “Mantra-Mantra”, Kunto Aji seolah memeluk pendengar melalui liriknya. Hindia atau Baskara Putra seolah menampar pendengar melalui lirik-lirik lagu dalam album “Menari dengan Bayangan”, dan Pamungkas yang seolah menepuk pundak pendengar yang sedang resah melalui album “Walk The Talk” karena cinta membuat milenial syahdu dan candu menikmati lagu-lagunya. Salah satu hal yang menarik adalah walaupun ketiga album tersebut masih berumur jagung, lagu-lagunya semakin meroket dan mendapat tempat di pasaran.
Salah tiga dari lagu yang banyak didengar milenial saat ini yaitu “Pilu Membiru” dari Kunto Aji, “Secukupnya” dari Hindia, dan “I Love You but I’m Letting Go” dari Pamungkas. Ketiga lagu tersebut dapat menjadi pengingat—atau setidaknya penenang—bagi para pendengarnya. Lirik lagunya yang heart-warming membuat pendengar tidak merasa sendiri dalam mengalami kesedihan atau kegagalan di dalam hidupnya. Selain itu, makna dari liriknya seolah mempunyai kekuatan untuk menyerap dan berbagi energi positif. Berbagai emosi yang disalurkan membuat pendengar menjadi lebih tenang. Ketiga album tersebut pun dapat bermanfaat dalam melakukan terapi terhadap diri sendiri sebagai stress reliever dan self healer.
Di samping liriknya yang relevan dengan kehidupan saat ini, pilihan kata yang disesuaikan membuat suasana lagu ini semakin pas dan semakin enak untuk didengarkan. Secara tidak langsung, lagu-lagu dari Kunto Aji, Hindia, dan Pamungkas membuat pendengarnya menyimak cerita tentang kegagalan, impian, kesedihan, kebahagiaan, kekecewaan, kenangan, hingga harapan. Melalui album “Mantra-Mantra”, “Menari dengan Bayangan”, dan “Walk The Talk”, pendengar mendapat banyak pelajaran sebagai bekal untuk diri sendiri di masa depan.
Hal terakhir yang dapat dinikmati dari lagu-lagu tersebut ialah penyelarasan nada lagunya. Lagu dengan tempo lambat cocok didengarkan untuk merenung, bersedih, atau menangis sebagai bentuk mengekspresikan emosi, sedangkan lagu yang bertempo cepat dapat didengarkan ketika emosi sudah semakin memuncak. Hal tersebut membantu perasaan dapat tersalurkan. Jadi, apakah kamu sudah ikut mendengarkan lagu-lagu dari Kunto Aji, Hindia, atau Pamungkas? Jika belum, mari putar bersama dan nikmati lagunya. Jika sudah, bagaimana rasanya? Menenangkan, bukan?
0 Komentar