Untuk Melihatmu Tersenyum Lagi

Oleh: BaraBiru Penyunting: Yuda Prinada 

sumber foto dari anakui.com
Aku harap, di atas surga nanti aku masih dapat melihat senyummu. Semoga Tuhan masih sudi memberiku kesempatan terakhir untuk melihat setiap gores senyummu itu. Walau aku tahu dunia memang tidak begitu mudah dijalani, tapi cobalah tersenyum di setiap saatnya, Riz. Waktu itu aku telah melewatkannya. Jam waktuku tak berkehendak memberi kesempatan untukku melihat senyummu lagi. Mungkin Tuhan ingin menghentikan kegilaanku tentangmu.
---
Hari-hari seperti biasa berlalu, kusibukkan diriku untuk membuang-buang waktu di kampus setelah mendengar celotehan para dosen yang memuakkan. Aku selalu menghabiskan sebagian waktuku untuk menikmati puntung demi puntung rokok bersama teman-temanku di tongkrongan. Mungkin, ini kedengaran tidak biasa karena aku adalah seorang wanita perokok aktif yang setengah gila. Kehidupan di dunia yang memuakkan ditambah cinta yang tidak kunjung berbalas selalu membawaku bernelangsa bersama teman-temanku di tongkrongan kampus.
Jika kau pikir mungkin aku wanita gila satu-satunya, tentu kau salah. Bahkan, di tempat ini dipenuhi oleh wanita-wanita putus asa. Wanita-wanita yang mungkin terlihat anggun dan baik di mata awam, namun jika sampai di tempat ini semua kesedihan dan kemarahan bercampur aduk dengan asap rokok. Mereka memang tidak menyuarakan tangisannya dengan lantang. Namun, aku tahu setiap hembusan asap rokok pun membahasakan kesedihan dan kemarahan mereka akan dunia.
Di sini, aku dan mereka sering meracau. Sering mengeluh dan juga sering tertawa tidak jelas. Maka dari itu, aku tau, aku dan mereka setengah gila. Entah mengapa kami seakan tidak bisa membendung tangis, namun suara dan air mata pun juga lelah untuk berbahasa. Kami wanita-wanita gila, mungkin saja ingin menangis dalam hati, namun kami mengumpatnya dengan salam kemunafikan.
“Ca, gua liat doi lo tadi di gedung 4. Doi sekarang menyendiri mulu ya.” Ujar Delia menanggalkan sepi di antara kami semua di tempat itu.
Aku sedikit tercengang. Doi? Oh, jadi dia masih mau pergi ke kampus. Sudah lama juga tidak berjumpa dengannya. Perkara rindu aku memang selalu menahannya karena aku tau wanita tidak bisa mengutarakannya dengan lantang.
“Oh, iya? Wah, udah lama juga gua gak ketemu dia.” Responku sedikit mengumpat kebahagianku yang sebenarnya dan rasa sedihku yang tidak pernah bersuara.
“Eh, iya, doi lo tuh katanya ngilang mulu ya? Dia lagi ada masalah emangnya?”
Dalam hati aku sebenarnya ingin marah karena aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan dia. Dia sudah lama menghilang. Kabar burung yang kudengar, dia memang sedang ada masalah dan mencoba lari menenangkan diri, lebih tepatnya menyendiri.
Temanku yang satu lagi, Gia, mulai menyahut dengan nada gibahnya. “Eh iya, gua denger ya, katanya dia tuh lagi menjauh dari teman-temannya gitu. Kenapa dah dia, Ca?”
Dalam hatiku berbahasa, “Mana gua tau anjir. Gua belom jadi siapa-siapanya dia. Atau memang bukan siapa-siapanya?”
Namun, bibirku sedikit halus berkata, “Gak tau, Gi.” Aku mulai muak dengan pembicaraan ini. Aku rasanya ingin buru-buru mencarinya di sekitar kampus. Setidaknya aku bisa melihat secara benar bagaimana raut wajahnya. Apakah benar ia sedang kalut dan banyak masalah. Aku setidaknya memiliki sedikit kemampuan melihat rona wajah seseorang. Singkatku di tempat itu, “Gua duluan ya.”
“Lah, mau ke mana lu, Ca? Balik? Masih sore, Ca.”
Aku pun mengacuhkannya. Menginjak sepuntung rokok yang mulai mengecil. Bergegas pergi, entah ke mana arahnya. Aku hanya ingin mencari dia saat ini. Memastikannya apakah ia benar-benar sedang murung hati.
Hampir semua gedung telah kulalui. Namun, tidak ada tanda-tanda seseorang nampak sepertinya. Tidak ada yang mirip dengannya. Aku pun tidak menyerah dan mencoba berjalan mencarinya lagi. Ini terdengar sangat tidak punya arah, karena memang kenyataannya begitu. Aku tidak tahu banyak tentangnya. Satu-satunya yang aku tahu, senyumannya sangat manis.
Aku mulai muak mencarinya. Putus asa. Mungkin, Tuhan sedang tidak berpihak. Aku beristirahat sebentar di gedung empat. Aku yang mulai putus asa melihat kepala demi kepala orang lain, kini memalingkan pandangan kepada tas-tas yang lewat di sekitar situ. 
Tak lama ada tas berwarna merah biru lewat di depanku. Aku mengenalnya. Iya, tas itu miliknya. Aku mendanga untuk melihat rupanya. Benar kata wanita-wanita gila rekanku itu. Ia nampak murung. Tak biasanya ia mengenakan topi. Mungkin ia kenakan untuk menutupi kesedihannya.
Tanganku bergegas mengambil sesuatu di dalam tas. Kuambil selembar post-it dan juga sebuah permen lollipop. Kutulis di kertas itu “Senyum dong!”. Namun, setelahnya aku bingung. Aku tidak mungkin memberinya langsung. Lalu kujegat seseorang yang lewat di depan ku persis.
“Mas, boleh minta tolong engga? Kasih ini dong ke cowo itu.” Aku sambil menunjuk ke arahnya. “tapi jangan bilang ini dari saya, ya!” 
Lalu kulihat orang yang tak kukenal itu memberikannya lollipop ber-post-it itu. Kulihat ia membacanya. Iya, dia menyunggingkan senyumannya, tapi itu cuma sebentar. Lalu ia bergegas pergi. Sungguh aneh tingkahnya. Dalam pikirku ingin sekali menghampirinya dan memeluknya. Namun, aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku tidak lebih dari junior pengagum rahasianya. Setidaknya hari ini aku bisa sedikit puas melihat seringai senyumnya.
---
  Hari berikutnya, aku habiskan waktu di perpustakaan. Di tempat itu, tempat kesukaanku adalah setumpuk buku puisi. Buku-buku yang kukira pembuatnya adalah peramal ulung, entah mengapa semua kata-kata di dalam puisi itu mengartikan kehidupannku, perasaanku, dan kegilaanku. 
Buku yang paling kugemari tak jauh-jauh dari buku puisi cinta. Entah itu ditulis oleh sastrawan yang mempunyai nama yang sudah bagus, atau pun sastrawan yang belum kukenal sama sekali namanya. Mereka semua adalah peramal ulung menurutku. Entah mengapa semua puisi cinta selalu mengartikan kerinduan dan kepedihan dalam mencintai seseorang. Persis dengan nasibku dalam masalah cinta. 
Setelah mulai sesak dengan setiap kata yang tersedia, aku pun mengakhiri membaca tumpukan kata cinta itu. Aku bergegas untuk pulang. Tak kusangka, ternyata aku tidak sengaja bertemu dengannya lagi. Aku bertemu si penggila buku itu, seseorang yang selalu menjadi tokoh utama dalam puisi-puisi kerinduan. Ia berjalan berlalu begitu saja. Dengan gilanya, aku mulai mantap mengikutinya. Ini tidak seharusnya ditiru. Ini tidak seharusnya kulakukan. Karena apa kata dunia ada wanita gila mencintai seseorang sampai begini gilanya? Tapi, apa salahnya wanita mencintai seorang pria sampai begini adanya.
Kulihat ia melangkahkan kaki ke suatu kafe. Ini waktu yang tepat untukku, kucuri pandang melihat gerak-gerik. Seperti yang kalian tahu, ia sering lenyap dimakan bumi keberadaanya. Aku memesan satu gelas kopi susu, lalu kutitip pesan ke pelayan itu, untuk mengirim kopi itu kepadanya. Tak lupa, kusertai post-it biru bertuliskan “Senyumanmu begitu manis. Ayo dong senyum!”
Aku tahu ini sudah benar-benar gila. Apa yang kulakukan bukan seperti perilaku seorang wanita. Namun, pria yang sedang berambisius mendapat apa yang ia mau. Begitulah aku. Demi melihat senyum yang manis, aku rela melakukan apa pun. Aku rela menjadi wanita gila. Aku rela melenyapkan nama asliku. Aku rela menghabisi sisa waktuku hanya untuk menguntitnya. 
  Aku mencari tempat yang tepat. Di mana ia tidak mungkin melihat keberadaanku. Aku duduk persis di balik tiang putih besar. Mungkin ia tidak dapat melihatku, tapi di tempat ini aku puas menatapnya.
  Benar dugaanku, ia melihat sekeliling kafe ini. Ia mencari tau siapa yang meberinya kopi dan secarik kertas yang memaksanya tersenyum. Biarlah kau tidak tahu akan diriku hari ini. Biarlah aku mengumpat di balik semua kemunafikkan. Setidaknya, aku bisa tersenyum puas di balik ini semua. Melihatmu sedikit berbahagia, melihatmu sedikit punya secercah harapan, asal kau tau, Riz, aku selalu saja ingin melihatmu tersenyum. Aku selalu saja ingin memelukmu. Aku selalu saja ingin menjadi rekanmu, bercerita tentang keluh kesahmu. Karena aku tahu, dunia tidak begitu adil untukmu. Asal kau tau, dunia juga tidak adil untukku. Apa lagi perkara cinta.
---

Hari ini, aku masih tidak puas menguntitmu. Aku masih rindu melihat gerak-gerikmu. Karena entah mengapa senyum belum juga kau goreskan. Aku belum bisa melihat seringainya. Aku belum bisa mengobatinya. Di tanganku, ada sebuah buku puisi. Isinya banyak tentang kata-kata rindu yang begitu menggila. Aku berniat memberinya kepadamu.
Ambisi gilaku terus saja membawaku kepadamu. Membawaku mencari tahu apa tingkahmu. Inginku selalu saja ingin membuatmu tersenyum setiap waktunya. Aku tahu kau sedang berjalan ke tempat tinggalmu. Seharusnya aku tidak melakukannya sejauh ini, tetapi kakiku masih saja tidak dapat kukendalikan. Mungkin ia tidak lagi mendengar isi kepalaku, tapi mendengar isi hatiku.
Kau melesap berjalan. Entah pandanganku mulai terhalang. Lalu lalang yang lewat telah berhasil membuatku sedikit geram. Membuatku sedikit mengumpat kekesalan. Motor dan mobil tidak mau mengalah memberiku kesempatan berjalan. Karena aku sang wanita gila, yang mulai hilang pikiran jernih dan rasionalnya. Aku tetap berjalan. Masa bodo dengan siapa yang lewat.
Dengan kebodohanku itu, ditambah takdir Tuhan yang mulai muak dengan tingkah gilaku, tidak tersadar sebuah mobil melaju kencang dan menghantamku begitu saja. Buku itu terlempar jauh. Aku juga tidak tahu ke mana perginya buku itu. Yang aku tahu buku itu tidak lagi kugenggam. Semua ragaku tidak lagi bisa kurasakan. Yang aku tahu selanjutnya, mungkin aku berbaring. Pandanganku yang kabur, sedikit samar terlihat banyak orang mendanga ke bawah, ke arahku. 

Posting Komentar

0 Komentar