Cinta Tanpa Bicara

Oleh: BaraBiru

Malam ini, seisi ruangan penuh dengan orang berlalu-lalang. Terlihat cantik dan tampan serta siap untuk berpesta. Saling menyapa, menegur, berbincang, tertawa, dan menyendiri dalam keramaian. Aku memilih melakukan hal yang terakhir. Menyendiri di balik keramaian dan sesekali memandangi indahmu yang sedang sumringah menegur dan berbincang dengan lawan bicara. Ia terlihat tampan dengan setelan tuxedo yang rapih, selalu menimbulkan kerinduan, karena kini, kita dipisahkan oleh jarak. Tak terlalu banyak inginku malam ini. Cukup memandangimu dari jauh dengan kesendiriannya. Aku tak pernah berharap lebih untuk bahagia dan bersenang-senang di pesta. Dengan sendiri aku bisa jelas melihat indahmu—itu sudah cukup. Melihatmu membalas senyum dan sangat siap untuk berbahagia.

Hari ini, ball room hotel dipenuhi dengan kerumunan yang siap berbahagia. Sedangkan aku, dengan hingar bingarnya, tak terlalu tertarik untuk membagi tawa. Aku hanya ingin menatapmu malam ini. Melihat senyum demi senyum yang kau rangkai—sempurna. Walau aku tahu dari seberkah senyum itu, akan tercipta peluh setelahnya. Kau sembunyikan lelahmu demi ambisimu untuk berbahagia malam ini—untuk terlihat sempurna di dalam pesta. Aku bisa lihat mendung kelabu yang tak bersuara, yang menandakan malam tak seindah harapmu. Aku juga tahu kau ingin sekali pergi dan mengasingkan diri dari keramaian ini. Namun, hingar bingar telah memboyongmu masuk lebih dalam lagi, dan menciptakan peluh yang tak terobati setelahnya.
Mungkin kau tersadar dengan pandanganku yang hanya membidik ke satu arah—tempatmu berdiri. Aku pun juga tak dapat mengendalikan bibirku untuk berhenti tersenyum saat mengarah kepadamu. Karena yang kutahu senyummu menularkan virus untukku tersenyum juga. Walau ini terdengar gila, karena aku hanya tersenyum sendiri sambil memandangimu. Kau yang tersadar akan pandanganku tak terlalu segan dengan itu—tak menolak segala sikapku. Kau nyatanya memandangiku balik dan menunggingkan senyum lebih indah lagi. Tapi aku tahu senyum itu mengandung sejuta arti—mengumpat sejuta keresahan dan gundahmu.
Foto oleh cottonbro dari Pexels
Foto oleh cottonbro dari Pexels




Lalu di balik gaun indah ini aku berjalan sedikit, menjaga jarak lebih jauh darimu. Menyediakan ruang untukmu bersenang-senang. Aku tahu kau perlu ruang untuk lebih membaur dengan keramaian. Dengan jarak ini, nyatanya aku tak juga memalingkan pandang dan lebih mendalam melihat setiap tingkahmu. Kau terlihat bahagia, tapi, aku tahu, kau juga telah lelah untuk membalas segala perbincangan itu.

Aku bisa saja pergi dari sini dan menemukan kedamaianku sendiri. Di banding berbasa-basi dan terlihat antisosial seperti ini. Aku bisa saja menemukan ketenangan di balik remang-remang kota New York hari ini. Namun, itu tak kulakukan. Aku tak bisa membiarkanmu termakan oleh rayuan pesta. Aku tahu kau sama seperti ku—muak akan pesta semalam suntuk ini. Aku bisa membaca pikiranmu, kau ingin lekas segera pulang dan mengistirahatkan segala keresahan. Namun, kenyataannya jam dinding belum bisa berdamai denganmu. Sautan lawan bicaramu masih saja ingin mengorek informasi lebih dalam—mengais validasi. Tawa semu yang terbelenggu di baliknya masih saja membuatmu terlena dan enggan pergi. Walau hasrat mungkin tercipta. Namun, ada saja yang membuatmu tidak pergi untuk pulang.

Kini, aku sadar aku terlalu kalut dalam memandangimu. Aku sadar, kau juga mulai sedikit resah atas semua tatapanku. Lalu kupalingankan sebentar dan berfokus kepada untaian gaun merah muda yang kukenakan. Indah sekali—aku suka—terima kasih hadiahnya. Tak terlalu monoton namun cukup mengeluarkan rona indahku. Menyuarakan keindahan yang sebenarnya tak cukup penting untuk kerumunan di ruangan ini. Apa gunanya aku terlihat cantik di mata mereka. Dengan kata-katamu, yang mengisyaratkan bahwa engkau terobsesi dengan diriku, sudah cukup membuatku cantik hari ini.

Lalu kukembalikan mataku untuk menatapmu. Ternyata—mungkin—sedari tadi kau memandangiku yang fokus pada gaun pemberianmu. Kau sunggingkan lagi senyum. Namun, kali ini lebih mantap menuaikan keindahan. Lebih indah dari yang sebelumnya. Bibirmu seperti berisyarat kepadaku “Kamu cantik sekali dengan gaun itu”. Dari tatapanmu yang begitu, aku bisa melihat segala pujian yang tak bisa kau bahasakan. Kau bukan tipe orang yang suka memuji. Tapi senyumanmu telah puas mengisyaratkan gombalan dan rayu kepadaku. Kuberi senyum paling indah ke arahmu. Untuk membuatmu tenang dengan kerumunan yang terlalu menawarkan keluh kesah.

Kini kupalingkan pandanganku lagi, sembari berjalan kecil ke arah luar ball room yang sangat indah ini. Menatap bunga-bunga yang tak mau kalah indahnya dengan ku hari ini. Menyunggingkan senyum dengan harum aroma ruangan ini yang merileksasikan kedamaian, tapi hingar bingarnya telah cukup buatku ingin pulang. Aku harap kau juga begitu. Aku harap kau mendambakan hal yang sama.

Kakiku telah meluruskan langkahnya—telah ingin meraih hasrat terpendamnya. Kini aku tepat berada di luar lobi hotel. Tak banyak inginku, aku hanya ingin pulang dan bermalam denganmu. Lekas beristirahat untuk mengurai cinta. Saling berpelukan dan meresapi cinta yang ada. Kuharap kau ingin hal yang sama—kuharap hasratmu juga begitu. Tak perlu bercumbu, aku hanya ingin berada di dekapanmu yang hangat—yang selalu menawarkan kedamaian. Mengusir mendung dan risau. Membuatku larut dalam ketenangannya. Mengusir kalut dan mendung kelabu.

Nyatanya kita menginkan hal yang sama. Kutengok sedikit ke belakang, dengan jarak sepuluh kaki, kau sudah berhasil kubuat pergi dari pesta yang tak kunjung tamat ini. Apa kita ingin hal yang sama? Apa kau juga mulai muak dan ingin pulang? Apa kau juga ingin bermalam dengan cinta yang tak perlu banyak suara? Kugoreskan senyum kemenangan. Aku telah berhasil membuatmu ingin pulang tanpa ada satu kata pun yang terucap. Aku berhasil menculikmu pergi dari semua tawaran gila yang enggan berhenti di pesta ini. Aku puas membuatmu menuruti inginku yang tak melontarkan senandung risau apa pun. Mungkin hati kita saling berbicara, tanpa suara. Memiliki hasrat yang sama—untuk kembali pulang dan mendekap cinta.

Aku langkahkan kakiku ke tempat yang pasti kita rindukan—rumah. Tempat di mana hanya ada kita berdua di dalamnya. Tak banyak pintaku malam ini. Peluklah aku dalam hangatnya tubuhmu. Tak usah banyak berucap kata cinta. Peluk dan dekap aku lagi dan lagi sudah lebih dari cukup. Bawa aku pula dalam hangatnya yang membuatku nyenyak untuk bermimpi. Tak banyak harapku, aku hanya ingin kita terdiam dalam dekap yang membuat kerinduan terbayar tuntas.

Tak membutuhkan waktu begitu lama, kita sudah berada di tempat yang semestinya. Pintu rumah seakan telah terbuka lebar untuk kita—mungkin merindukan kita juga. Lalu dengan semangat yang sedari tadi mengumpat, aku buka pintu dan lekas masuk ke dalam kehangatan rumah ini. Tempat yang nyaman, walau tak seindah bunga-bunga pesta tadi. Tak serapih dekorasi yang menyeruak. Setidaknya ini sudah cukup menciptakan ruang untuk kita bermalam dengan cinta.

Kubalikan tubuhku menatapmu yang penuh akan peluh, yang kini telah menaruh segala ambisimu pada jalan kota New York. Dari matamu aku bisa melihat peluh yang menetes mengisyaratkan bahwa ambisimu tak lagi membelenggumu dan meminta untuk diobati. Meminta diberikan ketenangan—meminta untuk dicintai. Ragamu juga tak terlalu sigap seperti tadi berdiri. Aku bisa lihat bahwa kau sangat ingin aku malam ini. Dengan tak banyak bicara, hanya cinta yang memenuhi seisi ruangan.

Kau mendekat ragamu kepadaku, berjalan sedikit sempoyangan dan gemetar—lelah dan kalut. Kautaruh kepalamu dengan kerinduan di pundakku. Tanganmu telah berdansa romantis merangkul lekuk tubuhku. Mengobati kerinduan yang sedari tadi mungkin kau impikan. Tapi terbelenggu dengan hingar bingar pesta dan kerumunan yang menggila. Tak terlalu banyak suara. Tak terlalu banyak pergerakan. Tak terlalu banyak pinta yang bersuara. Kau hanya mendekapku, tak lekang. Tubuhmu sangat dingin hari ini. Sangat mendambakan kehangatan dan cinta, malam ini. Mungkin pesta tadi terlalu banyak membuatmu kelelahan. Ambisimu terlalu bergemuruh membawa badai dalam dirimu.

Walau dengan posisi ini, aku tak bisa melihat wajah dan matamu. Namun, aku bisa menebak, kau tak lagi tersenyum, hanya merengut dengan mata terpejam. Tanpa ragu kau dekap aku lebih dalam lagi. Erat tanganmu lebih memasukanku ke dalam pelukannya. Kita tak banyak bicara. Hanya saling mengobati rasa sakit yang tak pernah bersuara, tapi selalu terbenam dan mengumpat pada raga. Kubalas setiap dekapanmu, walau tak terlalu menciptakan kehangatan—karena aku sama dinginya—sama sakitnya. Aku yakin ini sudah lebih dari cukup.

Cukup membuatmu nyaman dan mengobati risau yang kelabu. Tak banyak bicara, cinta di malam ini hanya perlu saling mengobati satu sama lain. Hanya perlu saling membalas kasih yang sedari tadi tak bisa terkisah—yang sedari tadi mengumpat. Hanya perlu saling diam tanpa kata dan membahasakan cinta di balik setiap kehangatan dekapannya. Aku hanya ingin ini tak berakhir. Malam ini, aku ingin tak kunjung tamat. Untuk kita dan untuk cinta. Untuk kita yang selalu mendambakan kenyamanan bercinta.

Tenanglah, sayang. Malam ini aku selalu untukmu. Kau selalu milikku.”
-suara hati yang tak pernah bersuara

Posting Komentar

0 Komentar