Mengais Cahaya Tabu

Penulis oleh Tanisha Fortuna
Penyunting oleh Yuda Prinada

Sudah berabad-abad kaum perempuan berada di posisi kedua setelah laki-laki. Dari tubuh, kebebasan intelektual, ekonomi, sosial, serta seksualitas, perempuan dikekang dan dikuasai laki-laki. Pengekangan ini telah menjadi suatu sistem yang “sempurna” dan melebur dalam kehidupan.

Hal tersebut menciptakan stereotipe bahwa perempuan seolah-olah tidak bisa berkutik. Berangkat dari itu, sebagian perempuan menganggap pengekangan yang terjadi merupakan suatu kewajaran. Penyebabnya, sudah tentu karena perempuan secara tidak langsung juga mendapat keuntungan dari pihak laki-laki, misalnya dari aspek ekonominya.

Di sisi lain dari yang mewajarkan pengekangan, ada beberapa perempuan yang merasa memiliki kekuatan untuk melawan, memberontak, bahkan berkuasa. Kasus ini digambarkan dalam novel karya Muhidin M. Dahlan yang berjudul Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!


Novel ini menceritakan Kiran, seorang muslim taat yang akhirnya menjadi pelacur dan memberontak pada sistem. Pemberontakan ini tentunya beralasan—karena ia kecewa akan agama, Tuhan, dan laki-laki. Berkat perasaan tersebut, Kiran terbawa ke dalam kekosongan hati yang menyebabkan ia mengisi kehidupannya dengan seks dan obat-obatan.

Petualangan dari perbuatan menyimpang ini justru membuat Kiran memiliki semangat hidup kembali. Kiran mengikrarkan diri sebagai pelacur, dengan dosennya sendiri yang menjadi germonya. Sebagai pelacur, ia dapat memberontak terhadap sistem sosial yang bobrok, khususnya yang tidak menguntungkan perempuan. Keinginan Kiran untuk menjadi pelacur ini dilakukannya agar dapat mengetahui “seberapa besar kebusukan para lelaki dan menimbang bobot bebet gombal cintanya.” (hlm. 202)

Berlainan dengan sebagian perempuan yang menganggap tubuhnya sebagai objek laki-laki, Kiran menganggap tubuhnyalah yang jadi menguasai para lelaki. Setelah melalui hubungan seks dengan berbagai pria, ia menyadari kepemilikan kontrol atas dirinya sendiri, termasuk tubuhnya.

Kesadaran ini menempatkan dirinya bukan sebagai perempuan biasa yang mudah tunduk pada laki-laki. Dengan kata lain, Kiran kini telah menemukan kekuatan yang tidak pernah diduga olehnya karena sebelumnya ia selalu mengikuti lelaki dan “terseret oleh kehendak-kehendak mereka, menangis-nangis cengeng di bawah duli kuasanya.” (hlm. 232).

Hubungan kekuasaan yang terjadi ketika Kiran berhubungan seks merupakan wujud ketimpangan laki-laki dan perempuan. Kiran berpikir bahwa laki-laki memiliki harga diri yang rapuh, apalagi jika sudah dilucuti pakaiannya. Kendati laki-laki tersebut memiliki status dan wibawa yang tinggi serta pengetahuan agama yang luas, tidak menjadi jaminan bagi mereka untuk tidak memainkan perempuan. Dengan melakukan seks bebas, Kiran ingin memberontak, mewakili kaum perempuan yang tidak jarang dipermainkan oleh laki-laki.

Selain itu, autokritik Dahlan tentang pemikiran Islam juga ditemukan dalam novel tersebut. Melalui Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, Dahlan mempertanyakan kembali sistem agama Islam dan kedudukan perempuan Muslim. Hal itu menyebabkan Dahlan sering menerima kritik pedas dari masyarakat karena karya-karyanya dianggap menyinggung nilai-nilai Islam. Ia dicap sebagai orang kafir dan Marxis dengan derajat kebencian terhadap agama yang sudah luar biasa besarnya. (hlm. 263)

Buku dengan sampul berwarna hitam ini akhirnya menunjukkan betapa gelapnya dunia manusia. Namun, kini di dalam kegelapan masih ada secercah cahaya. Cahaya tersebut mungkin belum tentu disukai oleh orang lain. Akan tetapi, cahaya itulah yang dapat memberi para perempuan semangat, layaknya Kiran, seorang pelacur yang mungkin profesinya dianggap tabu. Dengan profesi yang dimilikinya ia bisa menunjukkan cahaya dan melakukan hal mulia, yaitu melawan ketimpangan gender yang ada.

Posting Komentar

0 Komentar