Menunggu Godot: Di Antara Irisan Makna dan Monumentalisme

Penulis oleh Ditya N. Subagja Penyunting oleh Kawkab Barralimara


Gairah kesenian dan pergerakan budaya menuju tahun 1960 dipenuhi dasar resolusi konflik dan pencarian baru atas kemanusiaan. Ini berlaku untuk dua dunia; Timur dan Barat yang sebelumnya terpisah atas egoisme masing-masing. Pada akhirnya, Perang Dunia menyatukan kita lewat getirnya pengukuhan kekuasaan.


Ilustrasi oleh Pelita Alreszika
Teater absurd lahir sebagai bagian teater modern yang berkembang di Eropa Barat setelah gairah filsafat modern mulai mewarnai motif keseharian budaya populer. Salah satu kritikus penting yang mencatat peristiwa ini adalah Martin Esslin dengan bukunya yang terkenal, The Theatre of the Absurd. Ia mencatat bahwa istilah absurdisme yang berkembang tak hanya menjadi irisan filsafat eksistensialisme, tetapi juga mempengaruhi corak teater baru yang berkembang saat itu. Menariknya, istilah tersebut digunakan hampir di banyak kesempatan. Dia bisa dipakai untuk menyebutkan istilah teater absurd di parlemen yang secara getir menyindir parlemen sebagai badan yang gagal menghasilkan sesuatu.


Secara fisik, banyak aplikasi baru yang terpasang pada aliran monumental ini. Minimnya pelaku dan latar yang lebih sunyi menjadikan teater absurd dapat membangkitkan suasana keputusasaan yang saat itu akrab bagi kebanyakan orang. Dialog yang kosong dan kadang dipenuhi adegan komedi yang praktis membuat perhatian penonton jatuh kepada hal-hal kecil. Jika sebelumnya konteks ekstrinsik menjadi unsur kuat yang bisa diterjemahkan, teater absurd justru menolaknya dan mengembalikan penafsiran sebagai hal tersier.


Martin Esslin dalam bukunya itu membahas empat tokoh pengusung absurdisme dalam dunia teater, yakni Eugene Ionesco, Harold Pinter, Arthur Adamov, dan Samuel Beckett. Keempatnya memiliki ciri khas dan masing-masing berangkat dari kegetiran yang berbeda. Jika dipaksa untuk memilih dan menyempitkan sudut pandang, saya akan memilih Samuel Beckett dengan magnum opus-nya, Waiting for Godot, sebagai contoh naskah absurd yang monumental dan layak untuk terus digaungkan.


Hal yang saya kagumi pada Beckett di naskah monumentalnya tersebut adalah kepekaannya dalam menciptakan ruang penafsiran. Di luar teks, Beckett menjebak orang untuk menafsirkan, siapakah Godot? Lewat struktur kata yang cukup dekat, ia bisa direduksi jadi God atau Tuhan, dan penafsiran ini tidaklah salah. Lantas naskah itu bisa dikurangi pemaknaannya menjadi: Vladimir dan Estragon menunggu Tuhan yang tak kunjung datang. Ini tidak salah.


Yang harus jadi perhatian, apakah drama dua babak yang sangat panjang itu hanya perlu direduksi menjadi penafsiran semacam itu saja? Lupakah kita kalau ada Estragon yang bergumul dengan sepatunya? Ada Vladimir yang lupa tentang apa yang dia lakukan kemarin. Ada Pozzo yang berusaha bebas dari Lucky. Ada seorang anak lelaki di penghujung hari yang mengatakan bahwa Godot tidak datang hari ini dan baru akan datang besok. Vladimir dan Estragon akan mengulangi harinya dengan harapan yang sama. Mengulangi takdir yang mengerikan untuk mengganti harapannya dengan kenyataan yang sunyi.


Beckett sukses menyajikan intertekstualitas yang sangat menyentuh. Jika dia berhasil mengelabui orang untuk sibuk menafsirkan Godot, ia telah sukses mereduksi pemahaman orang bahwa mereka hanya akan sibuk menafsirkan sesuatu yang tidak/belum datang. Mereka lupa untuk berkaca pada sesuatu yang terjadi, yang jelas, yang lama, yang rumit, dan lupa memberi makna atas itu semua. Jika memang makna adalah kebenaran objektif yang patut dijejalkan ke setiap celah kejadian yang sangat menyedihkan dan menggelitik itu. Jika memang resolusi jadi jalan akhir untuk menyelamatkan Vladimir dan Estragon dari penderitaan yang kejam itu.


Posting Komentar

0 Komentar