Penulis: Karina Alya Putri Kartiko
Penyunting: Adinda R. Syam
Di tengah kemunculan drama-drama yang mengangkat kisah cinta mustahil, "My Liberation Notes" (나의 해방일지) hadir menyuguhkan realitas pahit-manisnya kehidupan. Tayang perdana pada tanggal 9 April 2022, drama ini dibuka dengan permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing pemerannya. Yeom Gi-Jeong (Lee El), Yeom Chang-Hee (Lee Min-Ki), dan Yeom Mi-Jeong (Kim Ji-Won) adalah tiga bersaudara yang hidup jauh dari pusat kota Seoul. Mereka harus menggunakan bus dan metro setiap berangkat dan pulang kerja.
Tidak hanya mengalami kendala dalam hal jarak tempuh rumah–kantor, masing-masing dari mereka juga mengalami kesulitan dalam bersosialisasi maupun menjalin hubungan romantis dengan orang lain karena jarak rumah mereka yang mengharuskan untuk tidak pulang terlalu larut. Jika mereka pulang terlalu larut, sudah tidak ada metro dan bus yang beroperasi, sehingga harus menggunakan taksi yang biayanya tidak bisa dikatakan murah.
Fenomena seperti ini kerap dialami oleh para pekerja yang bekerja di daerah Jakarta. Tidak seluruhnya berdomisili di Jakarta, pasti ada yang tinggal di Depok, Bogor, Bekasi, bahkan Tangerang. Menghabiskan banyak waktu di jalan, tidak bisa bebas bergerak karena keterbatasan waktu dan jarak, hingga rasa lelah yang dirasakan setiap hari adalah fenomena-fenomena yang dialami kaum pekerja pada kota-kota besar.
Cuplikan Realitas dari Tiga Bersaudara
Tanpa dibumbui bubuk-bubuk “hidup indah seperti di dongeng”, kehidupan pribadi tiga bersaudara ini lagi-lagi terasa sangat relatable dengan kehidupan manusia pada umumnya.
Kisah Yeom Gi-Jeong, si anak sulung perempuan, digambarkan terus mengeluh karena tidak ada satu pun pria yang mendekatinya. Entah karena penampilannya atau jarak rumahnya yang terlalu jauh dengan area perkotaan. Ia selalu menjadi penonton kisah cinta orang lain dan tidak pernah menjadi orang yang merasakan cinta yang sesungguhnya. Akibat keputusasaannya, ia memutuskan untuk mencintai sembarang orang pada musim dingin. Keinginannya tersebut menuntunnya ke arah yang tidak terduga. Ia dipertemukan dengan seorang duda dengan satu anak perempuan, hingga kakak dari calon pacarnya yang begitu menyebalkan.
Di sisi lain, Yeom Chang-Hee, anak tengah laki-laki yang selalu dibuat pusing akibat pekerjaannya di kantor manajemen sebuah retail toko serbaada. Kepeningannya bersumber dari rekan kerja yang duduk di sebelahnya yang selalu berbicara mengenai dirinya sendiri pada jam kerja dan pemilik salah satu toko serbaada yang selalu menghubungi Chang-Hee via telepon selepas waktu kerja.
Selain masalah pekerjaan, ia juga kerap kali bertentangan pendapat dengan kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai pembuat wastafel dan petani. Ia sangat ingin membeli mobil untuk memudahkannya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya, tetapi uang tabungannya tentu saja tidak cukup. Tergiur akan alih kepemilikan salah satu toko serbaada dengan keuntungan yang tinggi, tetapi lagi-lagi uangnya tidak cukup untuk mengambil alih toko tersebut.
Terakhir, Yeom Mi-Jeong, anak bungsu perempuan yang sangat pendiam. Seperti judul drama ini, Mi-Jeong ingin terbebas dari hal-hal yang terasa seperti menjerat dirinya. Pihak kantor yang mengharuskannya untuk mengikuti klub untuk menyeimbangkan antara kehidupan kantor dengan kehidupan sosial. Namun, tidak ada klub yang cocok untuk dirinya yang pendiam dan merasa lelah saat bersosialisasi. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuat sebuah klub untuk saling bertukar cerita dan menjadi diri sendiri bersama dua orang pendiam di kantornya.
Ketiga kakak beradik ini mencerminkan hal-hal yang sangat sering kita alami. Keinginan untuk mencintai dan dicintai seseorang, keinginan untuk mendapatkan kemudahan di tengah kondisi keuangan yang pas-pasan, hingga keinginan untuk terbebas dari ikatan yang ada di dalam diri.
Ketiganya merepresentasikan tiga tipe manusia yang berbeda. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari drama ini adalah jalan ceritanya yang teramat realistis bagi sebagian besar penonton. Hal tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri.
Selain jalan ceritanya yang unik, pengambilan gambar serta latar yang digunakan dalam drama ini cukup menyegarkan mata. Wilayah tempat tiga bersaudara ini tinggal berada di Sanpo, sebuah wilayah yang memiliki sedikit rumah dan banyak ladang, sehingga sangat menyegarkan bagi kita yang setiap hari melihat layar dan gedung. Tayang setiap hari Sabtu dan Minggu, "My Liberation Notes" hadir dengan kisah jatuh bangun pemerannya, kisah kehidupan keluarga dan kehidupan pribadi yang dikemas dengan apik menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh para pemirsa.
0 Komentar