Penulis: Luthfiah Yuliani
Penyunting: Adinda. R. Syam
Halo, WarGaung! Sadar nggak, sih, akhir-akhir ini semakin banyak istilah-istilah bahasa Inggris yang dipakai oleh anak muda? Eits, yang dimaksud di sini bukan kata which is, literally, prefer, better, dan sebagainya, melainkan beberapa istilah bahasa Inggris yang berkaitan dengan psikologi yang sering dipakai oleh anak muda. Salah satunya yang pasti sudah tidak asing adalah frasa daddy issues. Meskipun tidak terdaftar ke dalam istilah medis secara resmi, frasa daddy issues diyakini sebagai kondisi psikologis ketika seorang individu tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan ayahnya. Daddy issues juga diyakini untuk menyebut istilah apabila seorang individu tidak merasakan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya.
Tidak hanya frasa daddy issues, ada banyak istilah-istilah berbahasa Inggris lainnya yang memiliki kaitan dengan psikologi perkembangan, lho! Seperti halnya pasangan frasa daddy issues, yaitu mommy issues. Belum lagi istilah yang dikenal dan mungkin dimiliki sebagian orang, yaitu trust issues. Frasa-frasa tersebut bukan hanya sembarang istilah, loh! Namun, memang memiliki keterkaitan dengan psikologi perkembangan yang dialami setiap individu sepanjang hidupnya.
Pada dasarnya, psikologi perkembangan mempelajari perkembangan manusia sejak kelahirannya ke dunia dari berbagai perspektif, di antaranya adalah perkembangan motorik, kognitif, dan psikososial. Topik yang akan dibahas kali ini akan lebih mengeratkan pada perspektif perkembangan psikososial.
Erik Erikson, seorang psikolog Jerman yang terkenal dengan Teori Perkembangan Psikososial, mengatakan bahwa perkembangan psikososial seseorang yang dilihat dari 8 tahapan yang saling berurutan sepanjang hidup. Jadi, hasil dari setiap tahapan tergantung dari hasil tahapan sebelumnya. Tahapan-tahapan tersebut diperinci sebagai berikut.
Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar (Trust vs Mistrust)
Tahap ini terjadi di umur 0–1 tahun. Pada saat itu, kita sebagai individu berusaha untuk mendapatkan pengasuhan dan kehangatan dari orang tua. Jika tahap ini berhasil dan kebutuhan kita terpenuhi, kita bisa mengembangkan kemampuan untuk memercayai orang lain.
“Loh, terus, kalau gak terpenuhi, gimana?”
Ya, sebaliknya. Kalau tahap ini nggak berhasil dan kebutuhan kita tidak terpenuhi, kita bisa mengalami kendala berupa kesulitan dalam memercayai orang lain.
Otonomi vs Perasaan Malu dan Keragu-Raguan (Autonomy vs Shame and Doubt)
Nah, tahap ini adalah lanjutan dari tahap sebelumnya dan terjadi di umur 1–3 tahun. Pada fase ini, anak mulai belajar bahwa mereka memiliki kontrol terhadap tubuhnya. Di fase ini, peran orangtua sangat penting untuk menuntun anak untuk mengajarkan toilet training dan hal serupa lainnya. Perlu dicatat juga kalau menuntunnya tidak boleh menggunakan cara kasar, ya! Dengan tahapan-tahapan yang sudah dilakukan oleh orangtua, nantinya anak akan melatih kehendak mereka sendiri (otonomi).
“Terus, hasilnya apa nanti?”
Dari fase ini, hasil akhir yang diharapkan adalah anak bisa belajar menyesuaikan diri dengan aturan sosial tanpa banyak kehilangan pemahaman awal mengenai otonomi.
Inisiatif vs Kesalahan (Initiative vs Guilt)
Fase ini terjadi di umur 3–6 tahun. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa pada fase ini, anak akan sangat aktif dan memiliki banyak ide. Pada fase ini, anak akan belajar untuk merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Jika keinginan anak untuk berinisiatif tidak terpenuhi, anak akan merasa takut mengambil inisiatif atau membuat keputusan karena kesalahan yang sebelumnya. Dari situlah rasa percaya diri akan memudar dan anak tidak ingin mengembangkan harapan atau tujuan yang ia miliki. Oleh karena itu, biarkan anak mengeksplor dan jangan terlalu sering melarang keinginannya.
Kerajinan vs Inferioritas (Industry vs Inferiority)
Pada dasarnya, industri adalah keinginan untuk memiliki kesibukan dan menyelesaikan masalah. Pada usia 6–12 tahun, dunia sosial anak akan berkembang di luar keluarga, termasuk teman, guru, dan model orang dewasa lainnya. Pada fase ini, rasa ingin tahu dari seorang anak akan bertambah kuat dan terikat dengan perjuangan untuk mencapai kompetisi. Di sinilah waktu yang optimal untuk perkembangan sosial.
Anak usia sekolah akan belajar untuk bekerja dan bermain melalui aktivitas yang bertujuan untuk memperoleh keterampilan dan mulai mempelajari aturan bekerja bersama. Jika tahap ini tidak berjalan dengan baik, anak akan merasakan perasaan inferior (rasa ketidakmampuan).
Sebenarnya, kegagalan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Kegagalan pun merupakan perasaan yang harus dialami oleh setiap individu agar memiliki dorongan untuk melakukan hal lebih baik lagi ke depannya. Akan tetapi, perasaan inferior yang terlalu banyak dapat menghambat produktivitas dan mengurangi perasaan kompeten. Pada fase inilah orang tua berperan untuk meyakinkan anak bahwa kegagalan adalah sesuatu yang sangat wajar.
Identitas vs Kekacauan Identitas (Identity vs Identity Confusion)
Kita semua pasti sudah tahu, kalau masa-masa puber itu masa trial and error. Sama dengan fase ini yang terjadi di umur 12–18 tahun, yaitu ketika anak mulai memasuki masa pubertas. Secara psikologis, masa pubertas itu penting karena menyangkut tentang harapan dari peran dewasa di masa depan, loh! Dari sini, seorang anak juga mulai mencari identitas diri. Fase ini juga dapat disebut sebagai fase adaptif dari perkembangan kepribadian. Peran orangtua di sini sangat penting sebagai sumber perlindungan dan memberikan nilai-nilai baik kepada anak. Tidak hanya orangtua, peran teman sebaya dan kelompok juga sangat tinggi.
Jika tidak menemukan jati dirinya, anak akan merasakan identity confusion atau sindrom masalah yang mencakup gambaran diri yang merasakan ketidakmampuan untuk mencapai keintiman, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi pada penyelesaian tugas, dan penolakan pada keluarga pun masyarakat. Sebenarnya, hal ini adalah wajar karena remaja harus merasakan kebingungan mengenai diri mereka sehingga mereka dapat mencapai identitas yang stabil. Namun, terlalu banyak kebingungan akan membuat remaja mundur pada perkembangan dan menunda tanggung jawab dari kedewasaan.
Keintiman vs Isolasi (Intimacy vs Isolation)
Setelah melewati masa pubertas, seorang individu akan mengalami masa dewasa muda. Pada tahap ini, seorang individu mulai mempelajari cara berinteraksi dengan orang lain secara lebih mendalam. Tidak hanya itu, seorang individu juga memerlukan kemampuan untuk membentuk ikatan sosial sehingga tidak merasa kesepian. Bila tahap ini berhasil dilalui, maka seorang individu akan memperoleh rasa kasih sayang dan bisa memulai interaksi dengan lawan jenisnya.
Generativitas vs Stagnasi (Generativity vs Stagnation)
Pada tahap dewasa menengah ini, individu mulai memiliki pikiran untuk memberikan sesuatu kepada lingkungan sekitarnya yang lebih berdampak. Seorang individu pun mulai merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan sesuatu ke generasi penerus di masa depan. Ketidakmampuan untuk memiliki pandangan generatif akan menciptakan perasaan bahwa hidup ini terasa membosankan.
Integritas vs. Keputusasaan (Integrity vs. Despair)
Fase ini merupakan fase terakhir dari perkembangan psikososial seorang individu yang terjadi pada usia dewasa akhir sampai kematian. Di tahap usia lanjut, individu mulai melihat dan mengenang kembali masa lalu mereka. Mereka mulai mencari makna dari kehidupan mereka. Individu yang berhasil melalui krisis dari perkembangan sebelumnya akan memiliki integritas di masa tuanya. Sebaliknya, individu yang gagal melewati tahapan ini akan menyesali keputusan dalam menghadapi perubahan siklus kehidupan yang dilaluinya.
Dari sini, kita tahu bahwa diri kita yang sekarang merupakan hasil dari tahapan-tahapan psikososial yang sudah kita lewati sebelumnya. Kita juga tahu bahwa pernyataan “orang tua sebagai sumber pembelajaran pertama seorang anak” bukan semata-mata pernyataan asal. Lantas inilah hubungan antara peran orang tua dengan istilah issues yang belakangan ini bermunculan. Peran orang tua tentu mendorong perkembangan psikologis anak.
Pada akhirnya, anak-anak yang terbentuk dari kekurangan bantuan pada fase-fase tersebut akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan dirinya. Dengan demikian, WarGaung udah tau nih, ya! Hubungan antara istilah daddy issue, mommy issue, bahkan trust issue dengan psikologi perkembangan pada perspektif psikososial. Jadi, sekarang nggak cuma asal sebut issues tersebut, tetapi juga paham dengan kacamata ilmiah!
0 Komentar