Penulis: Ariavico Junaedi
Penyunting: Adinda R. Syam
Lantas, apakah mahasiswa sastra sadar atas eksistensi dari “skena” sastra di kampus mereka?
Ketika saya menghadiri kelas mata kuliah sastra, para dosen—lulusan FSUI Rawamangun—itu menceritakan bagaimana suasana “skena” sastra begitu hidup pada masanya. Mereka tidak hanya menjelaskan beberapa peristiwa sastra penting pada periode 70-an dan 80-an. Mereka juga bercerita, kehidupan sastra di kampus kuning di Rawamangun. Kegiatan-kegiatan seperti diskusi sastra, deklamasi puisi, hingga pertunjukan teater oleh mahasiswa FSUI sempat disinggung dalam perbincangan di kelas itu.
Para dosen bercerita dengan atmosfer nostalgia yang kuat. Nostalgia semasa mahasiswa tersebut membuat saya sebagai mahasiswa sastra merasa kalut melihat kondisi “skena”sastra sekarang yang sudah jauh berbeda dengan masa lalu. Saya mencoba untuk menjangkau beberapa teman sejurusan dan melihat bagaimana pandangan mereka mengenai sastra. Beberapa teman lebih tertarik pada bidang lain daripada kesusastraan. Beberapa teman lainnya hanya menganggap ketertarikan terhadap sastra sebagai mata kuliah yang lebih mudah untuk meraih “huruf A”. Paling sedikit, mereka punya ketertarikan dengan kesusastraan dan sedikit harapan untuk mencoba menghidupinya di kampus. Namun, harapan tanpa aksi tentunya hanya sebuah omong kosong.
Lantas, apakah mahasiswa sastra sadar atas eksistensi dari “skena” sastra di kampus? Mungkin tidak bagi mereka yang hanya melihat sastra sebagai mata kuliah yang wajib dijalankan. Di titik ini, saya merasa ironis dengan teman-teman mahasiswa sastra. Mereka—mahasiswa sastra dengan privilege untuk mempelajari ilmu kesusastraan—seharusnya mencoba sadar dan memulai untuk membuat gebrakan kesusastraan.
Meskipun memang, pada kenyataannya untuk menghidupi sebuah “skena” bukan sesuatu yang mudah. Paling tidak, mencoba untuk memulai hal tersebut adalah sebuah aksi heroik untuk menyelamatkan kesusastraan yang saat ini sedang berada di ambang kematiannya. Sampai detik ini, saya belum menemukan sosok pahlawan itu di kampus. Sekali lagi, paling tidak, mereka yang memiliki harapan sama akan lebih memilih bergabung dengan komunitas sastra di luar kampus.
Salah satu dosen pernah menyeletuk di kelas tentang cita-cita untuk menghidupkan suasana kesusastraan di FIB UI. Harapan atas memori masa lalu itu terasa seperti sebuah tuntutan, karena saya sendiri sadar bahwa saya adalah mahasiswa sastra dan mungkin punya peran penting dalam “skena” sastra tersendiri. Apa gunanya ilmu kesusastraan yang saya pelajari? Apabila ilmu tersebut hanya akan menjadi sebuah catatan dalam tumpukan berkas-berkas fail dokumen perkuliahan.
0 Komentar