Bagaimana Kita Menghina Kegiatan Makan



Namun, sebagai manusia apakah kita mengartikan makan sebagai sebuah kegiatan pemenuhan fisiologis saja atau jauh lebih dari itu? Jawabannya, tentu tidak.

Penulis: Ariavico Junaedi 

Penyunting: Upik

Makan adalah memasukkan sesuatu ke dalam mulut, kemudian mengunyah dan menelannya. Sekiranya, itulah yang dikatakan oleh KBBI Edisi V mengenai definisi dari kata "makan". Namun, sebagai manusia apakah kita mengartikan makan sebagai sebuah kegiatan pemenuhan fisiologis saja atau jauh lebih dari itu? Jawabannya, tentu tidak.

Makan (dan makanan) tidak bisa lepas begitu saja dengan identitas suatu budaya bangsa. Makan mengalami sebuah evolusi panjang mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan ini diawali dari kegiatan berburu dan meramu pada zaman praaksara hingga terus berkembang pada saat ini.

Bagaimana dengan perkembangan makan di era serba instan dan konsumtif ini? Saya berpikir bahwa perkembangan dari sebuah kegiatan makan pada saat ini mengalami sebuah kemunduran. Nilai-nilai yang ada pada beberapa abad yang lalu akan terus memudar, melihat bagaimana kita (manusia masa kini) yang memandang kegiatan makan hanya sekadar kegiatan mengunyah, menelan, dan kenyang.

Mundur ke beberapa abad lalu, berbagai bangsa memiliki ciri khas dan identitas dalam kegiatan makan, seperti cara memasak, ciri khas bahan masakan, hingga tata cara makan. Nilai-nilai ini kemudian terus memudar dengan kita mengacuhkan hal-hal tersebut secara sadar maupun tidak sadar. Hal ini merupakan penghinaan kita terhadap makan.

Kita mengacuhkan secara sadar dengan menganggap nilai-nilai seperti itu merupakan hal kuno yang sudah tidak relevan dan tenggelam dalam gaya hidup yang serba instan. Kita juga mengacuhkan secara tidak sadar dengan berbagai kondisi yang membuat kita tidak bisa menghargai nilai makan itu sendiri.

Kondisi seperti ini, sering dijumpai pada zaman yang serba cepat ini, tentang agaimana jadwal waktu kegiatan yang serba mepet sehingga kita tidak bisa mengapresiasi kegiatan makan itu sendiri. Contoh yang paling sering ditemukan adalah ketika kita makan sekaligus bekerja, atau yang paling hina adalah makan sekaligus menonton suatu hiburan.

Melakukan makan sekaligus menonton merupakan suatu hal yang paling hina dilakukan. Seolah makan merupakan suatu kegiatan omong kosong pengisi perut yang tidak dapat dinikmati. Apa bedanya kita dengan babi? Apabila menilai sebuah kegiatan makan hanyalah sebagai pengisi perut.

Makan adalah sebuah kegiatan yang sangat bisa untuk diapresiasi. Kita dapat mengapresiasi makan mulai dari pemilihan bahan makanan yang digunakan, proses dalam pembuatan makanan, waktu menunggu saat proses memasak, sensasi perut bergemuruh dikarenakan waktu menunggu, proses atau tata cara makan, rasa makanan, sensasi perut kenyang, dan lainnya. Maka, hal tersebut yang membedakan kita sebagai manusia dengan hewan. Kita bukan hewan yang sekadar makan, berak, dan tidur. Tentu, kita manusia dan berbudaya.

Posting Komentar

0 Komentar