Cantik itu Luka, Novel Eka Kurniawan Seharusnya Mampu untuk Dijadikan Sebuah Film

 


Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto

Penyunting: Arriva Zulfira


        Beberapa waktu lalu, heboh berita yang menyebutkan bahwa novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala akan dijadikan series. Dibintangi sederet aktor dan aktris terkenal seperti Diana Sastrowardoyo, Putri Marino, dan Arya Saloka, serial web garapan Kamila Andini dan Ifa Ifansyah tersebut akan ditayangkan di Netflix pada 2023. Hal ini tentu membawa angin segara bagi dunia sastra Indonesia. Namun, selain Gadis Kretek, terdapat pula novel lain dari dunia sastra Indonesia yang wajib diangkat menjadi film atau serial web, yaitu Cantik itu Luka karyak Eka Kurniawan. Mengapa demikian? Setidaknya terdapat tiga alasan yang dapat menguatkan argumen tersebut.


Rekam Jejak Eka Kurniawan yang Baik


        Sejatinya, sudah ada satu novel Eka Kurniawan yang diangkat menjadi karya layar lebar, yaitu Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Judul tersebut dialihwahanakan menjadi film oleh sutradara Edwin, yang turut menggandeng beberapa aktor besar seperti Ladya Cheryl, Reza Rahadian, dan Marthino Lio. Film tersebut sukses mendapatkan respons positif dari masyarakat. Tak hanya itu, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas juga berhasil menyabet beberapa penghargaan bergengsi, seperti Golden Leopard (Film Terbaik) pada Festival Film Locarno dan Tata Artistik Terpilih pada ajang Piala Maya tahun ini.

        Berdasarkan hal itu, karya Eka dapat dikatakan telah melewati “uji kelayakan”, dalam artian memiliki rekam jejak yang baik untuk diangkat menjadi sebuah film.


Kisah yang Unik dan “Tak Biasa”


        Dalam khazanah sastra Indonesia, Eka Kurniawan terkenal dengan gaya menulisnya yang berani. Ia kerap mengangkat cerita dengan isu-isu tabu, dan premis yang unik dan tak biasa. Begitu pula dengan Cantik itu Luka. Novel ini bercerita tentang Dewi Ayu, seorang pelacur dari masa kolonial yang memiliki tiga orang anak gadis cantik jelita, yaitu Alamanda, Adinda, dan Dewi Ayu. Namun, meskipun memiliki paras yang memikat, sayangnya ketiga gadis itu harus mengalami kenahasan yang sama, yaitu menikah dengan orang yang tidak mereka cintai. Suatu hari, lahirlah anak perempuan keempat Dewi Ayu yang kemudian diberi nama Si Cantik. Ironisnya, Si Cantik mempunyai fisik yang sangat bertolak belakang dengan namanya sendiri.

         Satu hal yang disukai pembaca dari karya-karya Eka Kurniawan adalah kemampuannya membungkus suatu makna tersembunyi dalam ceritanya yang nyentrik. Walaupun memiliki premis yang “cabul”, nyatanya selalu tersimpan pesan-pesan tersembunyi di balik setiap karyanya, termasuk dalam Cantik itu Luka. Hal ini dapat menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Kepuasan dalam membaca karya-karya Eka bisa didapatkan dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Singkatnya, dari segi kisah dan konflik, Eka Kurniawan selalu mampu menciptakan karya sastra yang melekat dalam waktu lama di benak para penikmatnya. Jika dijadikan film, karyanya dapat dipastikan akan terasa nonjok sekali.


Sudah Pernah Viral Sebelumnya


        Ada satu hal yang cukup lucu berkaitan dengan novel Cantik itu Luka. Pada 2021 yang lalu, para warga Twitter sempat dibuat heboh dengan cuitan dari @rm_bgsr, yang memaki-maki Eka Kurniawan karena sebuah kutipan singkat yang terdapat di dalam novel tersebut, yaitu “Semua perempuan itu pelacur sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada.” Sekilas, apabila konteksnya tidak diketahui, kalimat ini memang terkesan menghina dan merendahkan kaum perempuan. Namun, tentu saja sebenarnya ada maksud tersendiri dari Eka tentang kalimat tersebut, yang hanya dapat dimengerti apabila bukunya sudah dibaca sampai tamat.

        Berangkat dari hal tersebut, sejatinya Cantik itu Luka telah mendapatkan satu keuntungan yang tidak disadari. Blunder di Twitter tentang novel tersebut sebenarnya malah mengenalkan Cantik itu Luka kepada mereka yang sebelumnya belum pernah mendengar tentang karya tersebut sama sekali. Cuitan yang sebegitu viralnya tersebut otomatis menaikkan nama Eka Kurniawan sendiri. Hal ini menjadi bentuk promosi yang tidak disengaja, tetapi sebetulnya efektif untuk menjaring pembaca baru. Alhasil, jika suatu saat Cantik itu Luka benar-benar difilmkan, orang-orang sudah lebih familier dengan judul tersebut, sehingga hal ini dapat semakin menarik minat penonton.

Posting Komentar

0 Komentar