Badak Putih Utara

 





Penulis: Lutfiah Yuniarni 

Penyunting: Nurramadhina A. Daradjat

Selama 45 tahun hidup, aku merasa ini adalah titik terberatku. Hari ini aku merasa segala yang  aku lakukan sudah cukup. Aku merasa ini waktunya aku beristirahat, dalam jangka waktu yang  lama. Di saat-saat terakhirku, pikiranku memutarkan kilas balik terhadap apa yang telah  kulakukan selama ini. 

45 tahun yang lalu, aku ingat aku lahir di alam liar. Alam yang dipenuhi oleh rerumputan.  Alam yang disinari oleh terangnya sinar matahari. Alam tempatku merasa aman dan  dilindungi oleh indukku. Aku merasa masa kecilku sangat nyaman. Aku bertahan hidup bersama indukku dengan mencari makan rerumputan. Herbivora, begitu para manusia menyebutnya. Tidak hanya itu, mataku sering kali melihat hewan-hewan yang sejenis denganku. Bahkan, kami semua mirip. Aku mengetahui bahwa kami terhimpun dalam spesies yang sama.  

Seiring berjalannya waktu, aku melihat kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh manusia.  Aku tidak pernah menyangka bahwa manusia-manusia yang sering kulihat di alamku akan  mencelakakan aku, teman-temanku, bahkan indukku. Cula teman-temanku sering dipotong, entah untuk apa. Yang kutahu pasti, teman-temanku menderita. Namun, aku tahu cula yang mereka ambil dapat tumbuh kembali. Terhitung lama untuk menumbuhkan cula yang sudah mereka ambil, tetapi setidaknya cula kami kembali. Yang terparah, indukku yang diburu oleh  manusia ketika sedang mencari makan. Aku melihat indukku tersungkur di depan mataku  sendiri. Saat itu, pedihnya tak dapat kutahan.  

Manusia mengatakan kami tidak memiliki akal. Manusia mengatakan kami tidak dapat  merasakan emosi. Lalu, disebut apa yang aku rasakan ketika aku melihat teman-temanku  dipotong culanya? Lalu, disebut apa yang aku rasakan ketika aku melihat indukku ditembak  manusia? Lalu, disebut apa yang aku rasakan ketika aku merasa kehilangan kasih sayang dari indukku? Lalu, disebut apa yang aku rasakan ketika aku merasa tidak aman tanpa indukku? 

Aku merasa kini aku sendiri. Aku merasa ke mana pun aku pergi, semua tempat tidak akan aman. Aku merasa manusia adalah pembunuh. 

Aku menjalani hidupku tanpa kasih sayang dari indukku. Entah bagaimana kabar indukku  sekarang. Yang aku tahu pasti, ia sudah bahagia dan tidak bertemu dengan manusia-manusia  yang membahayakannya.  

Pikiranku yang menganggap manusia sebagai pembunuh berubah drastis ketika sekumpulan  manusia menghampiriku di tengah alam liar. Awalnya, aku merasa mereka sama seperti  manusia-manusia lain. Mereka memakai baju seragam berwarna abu-abu pucat. Beberapa dari mereka memakai topi, entah untuk melindungi diri dari sinar matahari atau memang itu  bagian dari seragamnya. Awalnya, kupikir aku akan diburu. Akan tetapi, mereka  memperlakukanku dengan sangat baik. 

Mereka memberiku rumah. Mereka merawatku dengan baik sehingga aku tidak perlu mencari makan sendiri. Meskipun berbeda dari indukku, aku merasa kasih sayang yang mereka berikan sangat tulus. Mereka memberiku kebahagiaan baru dengan membantuku memiliki anak. Aku memiliki anak betina. Aku tidak dapat menentukan namanya, bukan? Tetapi manusia-manusia baik itu memberinya nama Najin. Jadi, begitulah mereka  memanggilnya. 

Kilas balik itu memenuhi pikiranku. Aku mengalami jatuh serta bangun bersama manusia dan  teman-temanku. Entah mengapa, rasanya aku semakin melemah. Para manusia di depanku  berusaha menjagaku, mencegah kematianku selagi mereka mampu. Bila saja aku bisa  berbahasa manusia, aku ingin mengatakan terima kasih sebanyak-banyaknya. Aku ingin  berterima kasih atas segala perhatian yang telah mereka berikan. Aku ingin berterima kasih  atas rumah dan kenyamanan yang mereka berikan di tempat ini. 

Mataku tak kuasa untuk menahan agar tetap terbuka. Aku tahu aku semakin melemah. 

“Sudan? Sudan!” teriak mereka yang melihatku memejamkan mata.

Aku juga ingin berterima kasih atas nama yang mereka berikan kepadaku. “Sudan”, aku  menyukainya. 

*** 

Tarikh 8 Oktober 2018, spesiesku resmi punah. Aku, sebagai badak putih utara jantan terakhir,  menghabiskan sisa-sisa hidup terakhirku dengan kasih sayang para manusia baik.




Posting Komentar

0 Komentar