Musk vs Twitter: Kebebasan Berpendapat yang Dikontrol?



“Definisi ‘kebebasan berpendapat’ pun semakin dipertanyakan. Apakah masih ada kebebasan apabila segala sesuatu dipantau dan dikontrol? Apakah kebebasan yang mutlak dapat didapatkan di media sosial zaman sekarang?”


Penulis: Josephine Abigail

Penyunting: Upik


Drama Elon Musk dan Twitter bermula pada tahun 2017, ketika seorang pengikut akun Twitter Musk memberinya ide untuk membeli Twitter— yang dijawabnya dengan, “How much is it?”


Per akhir Januari 2022, Elon Musk mulai membeli saham Twitter, disusul cuitan-cuitan yang mengkritik media sosial tersebut pada bulan Maret. Jack Dorsey, CEO Twitter pada saat itu, menawarkan kesempatan bagi Musk untuk ambil bagian dalam dewan direksi Twitter, namun hal tersebut ditolak oleh Musk. Pada 14 April, Musk berusaha membeli Twitter dengan harga USD 43 miliar (IDR 668 triliun), dengan tujuan ingin menjadikan Twitter sebagai platform untuk berpendapat dengan bebas dengan mengutamakan transparansi. Meski begitu, banyak yang menilai Musk lebih tertarik mengotak-atik peraturan penyensoran yang ada di Twitter.


Proses pembelian Twitter selesai pada 27 Oktober 2022. Segera setelah menjadi pemilik Twitter, Musk memecat Parag Agrawal (CEO Twitter), Ned Segal (CFO Twitter), dan anggota dewan direksi lainnya. Beberapa di antara mereka dilaporkan harus diantar keluar oleh tim keamanan gedung.


Musk merombak sistem manajemen Twitter secara besar-besaran, dimulai dari mengurangi jumlah karyawan yang dinilai terlalu banyak. Hal ini tidak diumumkan sebelumnya, sehingga sempat menimbulkan kericuhan di antara para karyawan ketika hampir setengah dari jumlah karyawan mereka dipecat pada 4 November 2022.


Terjadi berbagai perubahan pada media sosial tersebut sejak datangnya Elon Musk— perubahan-perubahan yang, menurut Musk, dapat memberikan kebebasan lebih bagi masyarakat dunia untuk berekspresi. Musk mulai menjual verifikasi centang biru kepada penggunanya dengan harga 8 USD— sebuah fitur gratis yang dulu hanya tersedia bagi tokoh publik. Musk berpendapat bahwa verifikasi seperti ini dapat membantu mengurangi akun spambot yang banyak terdapat di Twitter. 


Meski begitu, fitur ini sempat terhenti sehari setelah dimulai, diakibatkan banyaknya akun yang mengajukan verifikasi meskipun akun-akun tersebut adalah akun palsu. Selain penjualan verifikasi, Twitter juga mulai memblokir konten-konten yang sebelumnya diperbolehkan, seperti konten dewasa. Banyak yang beranggapan Elon Musk sama sekali tidak menjalankan janji ‘kebebasan berpendapat’ yang dijanjikannya dulu.


Mantan CEO Twitter yang mengundurkan diri beberapa saat setelah Musk mengumumkan rencananya membeli Twitter, Jack Dorsey, dilaporkan sedang menguji coba media sosial baru beberapa hari setelah Musk merajai Twitter. Media sosial baru tersebut ia beri nama ‘Bluesky’, yang ia deskripsikan sebagai media sosial open source yang dapat menghubungkan platform media sosial yang sudah ada sekarang dengan yang akan ada di masa depan. 


Setiap pengguna media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Twitter akan dapat berinteraksi dengan semua pengguna lain di platform Bluesky. Jack Dorsey dilaporkan ingin menawarkan kebebasan berpendapat yang sesungguhnya melalui platform ini, berbeda dengan apa yang sudah terjadi dengan Twitter sekarang.


Definisi ‘kebebasan berpendapat’ pun semakin dipertanyakan. Apakah masih ada kebebasan apabila segala sesuatu dipantau dan dikontrol? Apakah kebebasan mutlak bisa didapatkan di media sosial zaman sekarang?


Tags: Twitter, Elon Musk, Jack Dorsey, Bluesky


Posting Komentar

0 Komentar