Penulis: Bintang Ramadhana
Penyunting: Nurrammadhina A. Daradjat
Sejak tanggal 9 November kemarin, seluruh bioskop di Indonesia telah mulai memutar film Black Panther: Wakanda Forever. Sama seperti film-film Marvel Cinematic Universe (MCU) kebanyakan, karya sinema arahan sutradara Ryan Coogler itu berhasil memancing antusiasme penonton. Terlebih, sekuel dari Black Panther ini merupakan judul penutup dari MCU Phase 4. Lantas, apakah kualitasnya filmnya sendiri sebanding dengan hype-nya yang begitu besar? Untuk mengetahuinya, silakan kalian membaca ulasan saya di bawah ini.
Bagi saya, hal yang paling menarik dari Black Panther: Wakanda Forever adalah sang antagonis, Namor. Dalam film ini, Namor tidak hanya mengesankan dari segi penampilan luarnya saja, tetapi juga dari segi penokohan yang begitu kuat. Saya bisa memahami motivasinya untuk melakukan niat jahat. Bahkan, saya pun jadi ikut menaruh simpati terhadap karakter tersebut setelah menyaksikan semua kepedihan yang ia rasakan di masa lalu. Semua itu takkan terjadi jika Tenoch Huerta, sang aktor yang memerankannya, tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, sepertinya saya harus memberikan pujian setinggi-tingginya untuk aktor berusia 41 tahun tersebut.
Aspek lainnya yang patut diapresiasi dari Black Panther: Wakanda Forever adalah kentalnya nilai-nilai budaya yang sukses ditampilkan secara mewah dan megah. Dalam prekuelnya, kita memang sudah disuguhkan dengan semua itu. Namun dalam film ini, saya merasa porsinya lebih banyak lagi karena para penonton turut dikenalkan pula dengan kultur bangsa Talokan yang sejatinya merupakan mitos dari Suku Aztec di Meksiko. Semuanya disajikan dengan cara yang indah melalui bahasa, aksen bicara, pakaian adat yang dikenakan, dan lain-lain. Adanya unsur keberagaman budaya ini membuat Black Panther: Wakanda Forever menjadi salah satu film terunik di MCU.
Selain itu, jika berbicara mengenai sebuah film superhero, rasanya kurang lengkap jika tidak membahas tentang efek-efek komputer yang digunakan. Dalam Black Panther: Wakanda Forever, semua CGI yang ditampilkan terlihat cukup halus dan berhasil mengesankan indra visual saya. Bahkan, ada beberapa scene menggunakan CGI yang bagi saya sangat memorable, seperti adegan Namor di bawah laut bersama para pasukannya, juga momen ketika penonton pertama kali diperlihatkan penampakan Black Panther baru dengan kostum anyarnya. Terlebih ketika filmnya sudah mulai memasuki babak pertengahan menuju ke akhir, di mana penonton diperlihatkan adegan pertarungan berskala besar antara kubu Wakanda dan Talokan, semuanya terlihat begitu menarik disaksikan karena tidak adanya CGI-CGI bermutu jelek pengganggu keasyikan menonton. Saya rasa hal ini juga patut dipuji, mengingat beberapa karya terakhir MCU kualitas special effect-nya cenderung di bawah standar.
Itulah review singkat saya mengenai Black Panther: Wakanda Forever. Bagi saya, film ini menjadi penutup yang memuaskan dari fase empat MCU dan tentunya, sebagai penghormatan terakhir untuk mendiang Chadwick Boseman. Oleh karena itu, rasanya nilai 9/10 layak diberikan untuk film berdurasi 2 jam 41 menit ini.
0 Komentar