Penulis : Salah seorang mahasiswa
Penyunting : JanSejak tahun 2020, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan Kampus Merdeka bagi perguruan tinggi. Kebijakan ini memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk mengikuti mata kuliah pilihan di luar fokus studinya. Selain itu, kebijakan Kampus Merdeka juga memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk menjelajahi dunia luar, mulai dari pertukaran pelajar hingga program magang di berbagai mitra.
Melalui Kampus Merdeka, para mahasiswa diharapkan mampu mendapatkan pengalaman praktik langsung di lapangan hingga memperluas jaringan di luar kampus. Namun, apakah pelaksanaannya betul-betul memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa seperti saya?
Sebagai seorang mahasiswa, tentu tujuan saya masuk ke jurusan saya saat ini adalah untuk mendapatkan ilmu seputar bidang tersebut. Saya berharap bisa mendapatkan pelajaran-pelajaran dasar seputar linguistik, sastra, dan filologi yang matang yang nantinya berguna di masa depan sesuai titel yang nanti saya dapatkan ketika lulus.
Sayangnya, harapan saya betul-betul hanya menjadi sekadar harapan, hanya sebuah angan belaka. Berkat kebijakan luar biasa dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, mata kuliah dasar saya dikumpulkan menjadi satu dan dipelajari hanya dalam rentang waktu yang singkat.
Mata kuliah-mata kuliah yang seharusnya diambil berjenjang, kini digabungkan menjadi satu dan dipelajari hanya dalam dua semester. Ambillah satu contoh, linguistik. Harusnya saya mendapatkan pembahasan yang mendalam tentang fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik secara mendalam dan bertahap. Namun, apa daya, saya harus belajar seluruhnya hanya dalam waktu dua semester (dan dalam kondisi pandemi).
Sebagai mahasiswa semester akhir, saya merasa diri saya tidak memiliki bekal yang cukup karena tidak matangnya pondasi yang dibuat saat saya masih di tingkat pertama. Tentu, saya mampu untuk mengulang kembali apa yang dipelajari, tetapi apakah ini bentuk yang ideal di dalam sebuah institusi pendidikan tinggi?
Kebijakan ini memberikan kesempatan emas bagi para mahasiswa, saya tidak bisa membantah. Namun, sebagai seorang mahasiswa yang seharusnya mendapatkan pondasi ilmu yang kuat, harus terkikis dengan program yang membentuk kami menjadi produk industri.
Alangkah lebih baik jika mata kuliah-mata kuliah dasar dikembalikan ke porsi yang seharusnya dan program Kampus Merdeka hanya menjadi pilihan yang tidak akan memengaruhi jalannya pendidikan. Entah kepada siapa saya harus memberikan keluhan ini, apakah kementerian atau fakultas saya sendiri.
Intinya, mahasiswa adalah mereka yang mengemban pendidikan di perguruan tinggi. Maka, sudah seharusnya mahasiswa memiliki bekal pendidikan yang utuh tanpa dikurangi oleh kepentingan-kepentingan lainnya.
0 Komentar