Penyunting : Tuah Ananda
Di era digital seperti sekarang ini, arus informasi layaknya tumpahan air terjun. Deras arusnya tidak dapat terbendung, bahkan dengan batu tebing sekalipun. Setiap informasi dari berbagai belahan bumi dapat langsung terunggah. Hanya dengan satu klik saja, manusia dapat langsung terhubung satu sama lain tanpa batas ruang dan waktu. Kedengarannya keren banget, kan? Tetapi, apa iya faktanya sebagus itu?
Sebenarnya, kelancaran arus informasi ini memberikan keuntungan bagi kehidupan manusia. Namun, selayaknya koin yang memiliki dua sisi, kelancaran informasi juga demikian. Selain hal positif, fenomena ini juga membawa dampak negatif yang perlahan-lahan mulai hadir dan menghantui. Kelancaran informasi dapat membuat manusia menjadi obesitas akan berita tanpa kejelasan fakta. Dalam sebuah tulisan pada buku Oxford Encyclopedia of Political Decision Making yang berjudul “Information Overload: An Overview,” disebutkan bahwa terdapat tiga dampak dari lubernya informasi yang diterima oleh manusia.
Dampak pertama, yaitu terganggunya kesehatan mental dan fisik manusia. Wurman (dalam Bawden & Robinson, 2020) memperkenalkan sebuah konsep information anxiety atau kecemasan terhadap informasi. Secara garis besar, Wurman menyebutkan bahwa information anxiety merupakan kondisi stres yang dialami seseorang akibat kekhawatiran terhadap kemampuan dalam mengakses, memahami, atau menggunakan informasi. Kelebihan informasi memang bukan satu-satunya penyebab dari kecemasan terhadap informasi. Namun, hal tersebut memiliki andil yang besar dan menjadi penyebab utamanya. Hal ini karena isi dari beberapa informasi yang berseliweran di internet dapat menyinggung persoalan sensitif yang kemudian memicu seseorang untuk bereaksi berlebihan. Apabila hal tersebut terjadi secara terus menerus, tentu perlahan-lahan akan memengaruhi kesehatan mental juga fisik dari orang tersebut.
Dampak kedua, yaitu ketidakefisienan. Setiap manusia pastinya memerlukan waktu untuk menyerap informasi yang baru diterimanya. Waktu tersebut mereka pakai untuk menelaah kebenaran di balik informasi baru. Apabila informasi baru yang datang atau mereka temukan itu berjumlah banyak, maka waktu yang mereka perlukan akan lebih lama juga. Hal ini tentu membuat proses menerima informasi menjadi tidak efisien. Selain itu, waktu lebih yang dihabiskan juga dapat mengurangi produktivitas seseorang.
Terakhir, dampak ketiga, yaitu hadirnya berita bohong. Dewasa ini, informasi yang ada di berbagai platform media bukan hanya berisi fakta, tetapi juga drama. Tidak semua informasi mengandung kebenaran sebagaimana kenyataannya. Beberapa informasi justru berisi informasi yang salah, bahkan terkadang bertolak belakang. Tentunya hal ini dapat berdampak besar terhadap pandangan dan perilaku masyarakat yang menerima informasi tersebut. Terlebih lagi, jika informasi tersebut berkaitan dengan kesehatan dan politik. Nah, loh! Bisa serius banget, kan dampaknya?
Eits, meski dampak negatif dari kelebihan informasi ini terus membayangi, tetapi masih ada, nih, cara yang bisa #WarGaung lakukan untuk mengurangi dampaknya. Cara ini dikemukakan Landale (dalam Arnold et al., 2023) dan terdiri atas tiga langkah. Langkah pertama, yaitu mengevaluasi informasi. Ketika menerima informasi, kita tentukan dulu apakah akan membacanya atau mengabaikannya dengan membaca judul dan paragraf pertamanya. Setelah mendapat pemahaman awal, langkah kedua yang dilakukan, yaitu menentukan apakah informasi tersebut akan dibaca lebih lanjut dan mendalam atau cukup pada pemahaman awal saja. Kemudian, langkah ketiga, yaitu mengadaptasi informasi baru tersebut. Langkah terakhir ini dilakukan apabila #WarGaung memutuskan untuk memperdalam informasi di langkah sebelumnya.
Berdasarkan informasi di atas, #WarGaung jadi tahu, kan bagaimana dampak kelancaran arus informasi dari sisi yang berbeda? Nah, walaupun terdapat hal-hal negatif yang ditimbulkan, tetapi itu bukanlah sesuatu yang menghalangi kita dalam mengakses informasi. Selama kita berlaku bijak dalam menerima informasi, maka dampak tidak baik tersebut dapat kita hindari. Jadi, mari kita bijak dalam menerima, membaca, dan memahami informasi. Salam literasi!
Sumber Referensi
Arnold, Miriam, Mascha Goldschmitt, and Thomas Rigotti. "Dealing with information overload: a comprehensive review." Frontiers in psychology 14 (2023): 1122200.
Bawden, David, and Lyn Robinson. "Information overload: An overview." (2020).
0 Komentar